Web Komunitas Suporter Slemania | Kamilah Jiwa - Jiwa yang Tidak Terkalahkan

Supported by: LigaIndonesia.com | Bukan Berita Bola Biasa

VOTING

sembari menunggu siapa pelatih yang akan menukangi PSS musim ini. Mari voting siapa pilihan anda ?








Akademi PSS Sleman? pasti bisaa...

11 January 2014

Selasa Pagi yang cukup panas kota Depok dan Tangerang tadi tidak mengurungkan niat saya untuk memenuhi undangan pertemuan tentang sebuah tawaran pekerjaan dengan salah satu Academy Director salah satu akademi terbaik di Indonesia (menurut saya). Sebuah akademi yang mempunyai jenjang pendidikan sepak bola terstruktur. Pembinaan para pemain muda di akademi sepak bola ini dikelompokkan dalam 3 kelas:

1. Usia 6 sampai dengan 10 tahun (Basic Training)
2. Usia 11 sampai dengan 14 tahun (Intermediate Training)
3. Usia 15 tahun keatas (Advanced Training)
Akademi sepakbola ini terletak di sebuah komplek perumahan Villa Pamulang, Kedaung, Tangerang, Propinsi Banten. Akademi sepakbola ini bernama Villa 2000 FC. Sebuah akademi yang mengusung visi sebagai pusat pembinaan sepakbola usia muda dengan kualifikasi dan kompetensi internasional, serta berorientasi bisnis secara profesional dan misi untuk menjadi akademi Sepakbola terbaik di asia dan menjadi akademi yang paling produktif menyalurkan pemain-pemainnya ke klub-klub papan atas dunia.

Saya cukup terkesan dengan fasilitas yang terdapat di Akademi Sepak bola Villa 2000 FC. Secara sepintas fasilitas Akademi ini mirip yang dipunya oleh Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di Indonesia. Mempunyai Lapangan tempat berlatih sekaligus pertandingan, beberapa buah gawang dinamis serta bola dan fasilitas umum lainnya. Tapi ada sebuah hal yang berbeda di dalam kantor akademi ini, yaitu tempat fitness, ruang hiburan yang tersambung dengan TV Kabel (yang kebetulan waktu saya tiba sedang menayangkan cuplikan pertandingan Liga Italia), almari prestasi yang memuat piala hasil kerja keras binaan akademi sepak bola ini baik skala nasional ataupun regional Jabodetabek. Namun terdapat satu fasilitas yang membuat saya kagum, yaitu sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruangan untuk analisa perkembangan pemain binaan Villa 2000 FC dan berfungsi juga sebagai ruangan analisa calon lawan serta review pertandingan yang telah dilakukan akademi ini. Ruangan ini memang kecil, hanya terdiri dari 4 komputer tapi di masing masing komputer itu memuat software untuk melakukan “pekerjaan” di atas. Selain itu akademi ini juga mempunyai klinik untuk perawatan pertama terhadap cedera yang dialami pemain binaan Villa 2000 FC. Sebuah fasilitas yang menurut saya cukup wah yang dipunya oleh sebuah akademi sepak bola yang baru mencoba untuk menapak karir sebagai klub sepak bola profesional di Indonesia. Sebagai perbandingan dengan Klub kebanggaan saya, PSS Sleman, yang sudah berdiri sejak tahun 1976 belum punya fasilitas fasilitas yang saya sebutkan diatas.

Ada satu fakta lain yang membuat saya cukup antusias untuk menuangkan tulisan ini, ya tenyata sang Academy Director Villa 2000 FC, Ganesha Putra, pernah ikut berkecimpung bahu membahu membesarkan www.slemaniac.com , situs pendukung PSS Sleman yang lama sebelum berubah menjadi www.slemania .or.id, Beliau di Slemania Cyber satu angkatan dengan Alm. Yudho Wasono, Mas Ogi, Mas pherr dkk.

"saya medio 2000 - 2005 sempat meramaikan www.slemaniac.com bersama Alm. Yudho Wasono, Mas Ogi dkk..."
Bolehlah kita sebut Om Ganesha Putera ini sebagai kelompok Slemania Cyber lawas. Filosofi yang cukup bagus saya dapatkan dari Beliau, Pemain bintang itu tidak harus diperoleh dengan membeli tapi pemain bintang bisa juga diperoleh dengan diciptakan oleh klub tersebut. Menurut beliau membuat akademi sepakbola bagi klub profesional itu cukup “murah” hanya cukup menyisihkan 10% dari total pengeluaran satu musim klub tersebut. Artinya kalau satu musim klub profesional memiliki dana 15 M maka cukup 1,5M untuk investasi di akademi sepakbolanya. Akademi Sepakbola juga memberikan keuntungan ganda, selain bisa mencetak pemain bintang, akademi juga bisa menciptakan staff kepelatihan yang mumpuni. Akademi Villa 2000 FC memang baru memulai menapak karir sebagai klub profesional pada tahun ini, tapi apa yang dilakukan akademi ini layak dicontoh dan ditiru klub yang ngakunya profesional di Indonesia, termasuk PSS Sleman. Jangan salah Akademi ini sebagian besar pendanaannya berasal dari sponsor karena susah jika hanya bergantung dari tiket saja. Klub ini memang minim pendukung karena mayoritas masyarakatnya mengidolai Klub papan atas ISL, Persija Jakarta, Persib Bandung dan Persita Tangerang. Untuk bisa mendapatkan sponsor, akademi Villa 2000 FC ini mempunya sebuah tim marketing khusus.

Sekarang coba bandingkan dengan PSS Sleman. Dari segi penonton memang kita boleh menang dari Villa 2000 FC tapi kalau dari sponsor dan akademi, PSS Sleman masih jauh tertinggal. Penulis mempunyai impian suatu saat nanti PSS Sleman juga bisa mempunyai sebuah akademi khusus untuk mendidik calon pemain muda yang akan memperkuat tim senior ataupun pemain muda yang bisa kita jual ke klub lain. Ditambah dengan fasilitas pendukung lain yang sudah disebutkan diatas. Siapa yang tidak bangga jika PSS Sleman diperkuat oleh para pemain hasil binaan Akademi PSS Sleman? Penulis masih ingin melihat PSS Sleman bisa menciptakan lagi pemain seperti, M Muslih, M Eksan, Dwi Wahyudi, Kahudi WW, Fajar Listyantara, Fachrudin, Busari, Eko W, Anang Hadi, Mudah Yulianto, Hermawan PJ dll. Memang untuk membuat sebuah Akademi berkualitas tidak cukup mudah tetapi suatu hal yang wajib dilakukan.

Menurut, Ganesha Putera, Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan mengurangi anggaran belanja pemain, jika sebelumnya satu pemain dikontrak sebesar 500juta maka turunkanlah nilai kontraknya menjadi 400juta/ pemain. Jika biasanya menggunakan pemain asing mahal sebanyak 3 / 4 pemain maka cukup kontrak 2 / 3 pemain asing mahal. Selisih anggaran ersbut silakan investasikan kepada pembuatan Akademi Spkabola. Atau jika memang susah mendirikan akademi dengan dana operasional klub, maka klub bisa melakukan kerja sama dengan pihak ketiga, dalam hal ini bisa pemerintah ataupun swasta. Untuk itulah sebuah Klub Profesional memerlukan sebuah tim marketing yang cukup kredibel. Yang sekali lagi belum terlihat di klub kebanggaan saya yang ngakunya profesional, PSS Sleman.

Kalau mau menjadi klub yang profesional dan mandiri maka manajemen PSS Sleman WAJIB membuat sebuah akademi untuk pembinaan pemain muda PSS Sleman. Akademi dan fasilitas pendukung lain itu bisa juga membantu menghasilkan pendapatan tambahan untuk PSS Sleman. Setelah musim lalu para pendukung PSS Sleman sukses mengkampanyekan “No Ticket No Game”, tidak ada salahnya jika musim ini pendukung PSS Sleman mulai mengkampanyekan “No Soccer Academy No PSS Sleman”. Mari semua elemen pendukung PSS Sleman saling guyub rukun untuk mengawal PSS Sleman menjadi sebuah klub yang mandiri dan profesional.

Ada kutipan dari tulisan Om Ganesha Putera (yang dimuat di Jawa Pos Metropolitan - Senin, 23 Desember 2013)

“Alih-alih menjalankan fungsi check dan balance untuk kemajuan sepakbola, media dan suporter justru ikut tercebur pada kegiatan klub yang kontraproduktif. Seharusnya media lebih kritis dalam pemberitaan. Bukan sajikan berita klub A beli pemain X berharga bombastis, tapi kritisi ketiadaan fisioterapis klub. Suporterpun setali tiga uang. Bukannya mendemo manajemen klub untuk dibuatkan akademi, malah sibuk menangisi kepergian pemain legenda. Untuk itu penulis serukan pada semua untuk pikirkan masa depan klub. Bangun sdm via akademi dan kembangkan fasilitas!”

Semoga tulisan ini bisa membuat hati manajemen terbuka untuk menciptakan sebuah Akademi Sepak Bola PSS Sleman dan menjadikan klub ini menjadi salah satu Klub mandiri yang profesional. Mohon maaf jika terdapat kata kata yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat.....

Salam Satu Hati.....

Biancoverde Ale.....

Dari sebuah sudut keramaian Batavia demi terciptanya PSS Sleman yang mandiri dan profesional


[ by : NB ]

<< back to index

Komentar

tambah komentar