01 March 2002
Ratusan Slemania diperkirakan berangkat ke Sidoarjo menyaksikan laga PSS ketika dijamu tim tangguh GPD di Stadion Gelora Delta minggu 3 Maret 2002. Sudah bisa dipastikan Slemania melawat dengan jalur darat, yaitu bus dan kereta api. Sebagian besar suporter PSS ini akan menggunakan jasa PJKA karena disamping lebih murah juga lebih merakyat.
Yang menjadi masalah bagi Slemania "Nyepur" adalah soal waktu. Menurut Widi Asmara, koordinator Slemania "nyepur", lobi kepada Kepala PJKA Jogja masih dilakukan. "Rencananya kita akan menggunakan kereta api Gaya Baru Malam yang tiba di Stasiun Lempuyangan pukul 23.00. Tetapi menurut pengalaman kereta tersebut selalu penuh, terlebih lagi Sabtu-Minggu adalah hari padat untuk Kereta api," kata Widi kepada www.slemaniac.com.
Dia juga menambahkan bahwa tahun lalu waktu melawat ke Sidoarjo kita kesulitan untuk masuk ke gerbong kereta api. "Tahun lalu, dari sekitar 40 Slemania hanya 35 yang bisa naik karena banyak pintu KA yang tidak dibuka lantaran gerbong sudah penuh," tambah Widi yang juga Ketua Slemania Korwil Kampus. Untuk alternatifnya Slemania akan menggunakan Kereta Api Sri Tanjung jurusan Jogja-Banyuwangi.
Kereta api Sri Tanjung berangkat pukul 06.20 dan sampai di Stasiun Wonokromo pukul 13.30. "Untuk menyambung gerbong di Kereta Gaya Baru Malam tidak bisa, hal ini dikarenakan KA tersebut bukan trayeknya Jogja. Tetapi apabila Sri Tanjung kita bisa bebas menggunakannya. Untuk menyewa per gerbongnya dikenakan biaya 1,9 juta," tambah Widi.
Lantas untuk koordinasi sudah disiapkan baik kepada Deltamania maupun pihak yang terkait. "Andai saja ratusan Slemania berangkat pakai Sri Tanjung, kita akan mengirim beberapa orang untuk berangkat lebih dulu (dengan KA Gaya Baru) dan menyiapkan segala sesuatunya di sana. Misalnya transportasi Wonokromo-Stadion dan kulonuwun terhadap publik bola Sidoarjo, khususnya deltamania." tambahnya.
Widi Asmara juga menambahkan, "Kami sudah melakukan kontak dengan Deltamania, tiket untuk tribun ekonomi seharga 6000 rupiah. Akan diusahakan dengan tiket ekonomi kita bisa terisolasi di tempat yang aman sehingga ikut membantu pihak keamanan dalam mengamankan pertandingan," harap Widi.
Tetapi hal bertentangan diungkapkan Sigit yang melakukan kontak langsung dengan Asnuri, Ketua Umum Deltamania. Yang diinginkan Slemania adalah dengan tiket maksimal 10 ribu rupiah Slemania bisa mendukung PSS dengan aman. Tetapi pihak Delta mengungkapkan tiket di tribun tertutup sebesar 15 ribu dan upaya adanya diskon untuk suporter tamu masih berlangsung. "Di Jogja pun Deltamania akan kita perlakukan dengan baik seperti Pasoepati dan Ultras Gresik. Dengan berbekal tiket ekonomi mereka kita masukkan ke tribun tertutup yang tiket seharga 3 kali tiket ekonomi. Hal ini dilakukan karena mereka tamu dan harus dijamin keamanannya," ungkap Sigit dari Korwil Pusat.
Pengurus Tidak Tanggap
Widi Asmara juga menyesalkan sikap pengurus Slemania yang tidak mau memfasilitasi Slemania yang mau "nyepur". "Apabila pengurus tanggap, tentu tour di Jawa Timur menjadi prioritas utama. Mana mungkin persiapan yang hanya 5 hari bisa memberikan hasil maksimal," keluh Widek, panggilan akrab Widi Asmara.
Dia menyesalkan perkataan pengurus yang bilang bahwa uang kas Slemania akan digunakan untuk hal-hal penting ketika dimintai subsidi untuk nomboki menyewa gerbong KA. "Rupanya mereka tidak menyadari bahwa tour ke kandang lawan adalah yang terpenting dalam Slemania," tambahnya. Di samping mendukung PSS, kita juga membawa nama Slemania di mana kita berada. Kedengarannya tidak enak apabila dikatakan Slemania sebagai suporter jago kandang atau suporter cepek.
Pokoknya kita harus bisa menampung aspirasi Slemania arus bawah. Jangan beranggapan suporter yang punya uang 40 ribu yang bisa menyaksikan penampilan PSS di kandang lawan. "Kita semua punya kesempatan yang sama. Kalau tidak diawali dengan seperti ini, kapan lagi Slemania akan maju. Slemania akan selalu jalan di tempat dan kemanapun peserta tour hanya cepek," kata Widek.
Kenakan Pita Hitam
Slemania dalam pertandingan GPD-PSS akan mengenakan pita hitam di bagian lengan. Hal ini untuk menyatakan belasungkawa terhadap tewasnya Heri Mardias, suporter Kmer Semen Padang yang tewas karena kebrutalan suporter di Jakarta tempo hari. Semua pertandingan pada hari itu pun akan diawali dengan mengheningkan cipta tanda sepakbola Indonesia berkabung.
Slemania sadar akan kerugian dari kerusuhan Suporter. "Alhamdulillah, sampai sekarang Slemania tidak mempunyai "musuh" di manapun karena kita adalah suporter yang cinta damai," ujar Heru, Sekjen Slemania Tjaboel.
[ by : yhewhe ]


