20 January 2002
PSS Jogja akhirnya dapat memenangkan pertandingan kandangnya yang pertama secara dramatis dengan skor 4-3(2-2). Gol PSS dicetak oleh Slamet Riyadi (14'), Sutaji (42'), "Super" Seto Nurdiyantoro (70', 82'), sedangkan gol Persijatim diciptakan masing-masing oleh Mardiyansah (28'-pen, 48') dan Hari Salisuri (40'). Pertadingan yang dilangsungkan di Stadion Mandala Krida ini berlangsung cukup keras sehingga memaksa wasit R. Mas Agung meneluarkan 5 kartu kuning dan 1 kartu merah.
Upacara pembukaan Ligina VIII di Mandala Krida didahului dengan Ikrar Damai Suporter Joglosemar. Dimulai dengan kirab 80 Daeng Prajurit Kraton mengitari lapangan yang menandakan upacara khas Jogjakarta, Ikrar damai Suporter Joglosemar diucapkan oleh 4 perwakilan suporter Jogja-Solo-Semarang yang meliputi Slemania dan PTLM (Jogja), Pasoepati (Solo), dan Panser Biru (PSIS Semarang). Dengan acara ini diharapkan suporter 3 kota di Jawa Tengah dan Jogjakarta bisa berdamai dan ikut menyejukkan iklim sepakbola di tiga kota tersebut. Ajakan damai ini bisa dilihat dari spanduk yang dibawa mengitari lapangan dengan tulisan "Suporter Joglosemar Bersatu".
Pertandingan sendiri berlangsung seimbang. Mengawali kiprah PSS Jogja di Stadion Mandala Krida PSS langsung tampil menggebrak. Serangan yang dibangun dari kedua sayap yang diisi oleh Salahuddin dan Muh. Ansori selalu kandas di barisan pertahanan Persijatim yang dikoordinir oleh Deddy Setiawan yang juga eks pemain PSS. Serangan dibangun silih berganti. Pada babak pertama sedikitnya Persijatim dan PSS jogja mempunyai beberapa peluang emas.
Tendangan keras pemain tengah Persijatim sempat membentur tiang gawang kiri yang dikawal Didik Tri Yulianto yang juga membungkam ribuan Slemania. Tendangan striker PSS Risdianto dari jarak jauh juga berhasil ditepis kiper Persijatim Wawan D yang hanya mengakibatkan tendangan penjuru.
PSS Jogja berhasil mencetak gol pada menit 14 melalui kaki Slamet Riyadi. Gol bermula dari lemparan ke dalam "boski" Salahuddin ke kotak pinalti, kiper Persijatim yang maju sempat mengeblok bola yang menjadikan kemelut di depan gawang Solo FC. Slamet Riyadi yang jeli melihat kiper sudah tidak dalam posisi yang benar langsung mengirimkan tembakan lemah namun terarah sehingga membuat PSS unggul 1-0.
Tidak berselang lama, 14 kemudian Persijatim Solo FC berhasil menyamakan kedudukan melalui Mardiansah lewat tembakan 12 pas. Bermula dari Akselerasi Nunung "Mr. Cepek" Indriyanto dari sektor kanan pertahanan PSS. Dia berhasil melewati Nova Arianto dengan mengolong pemain jangkung ini sehingga dia harus mengganjalnya tepat di dalam kotak pinalti. Mardiyansah yang dipercaya mengeksekusi tembakan pinalti ini berhasil menyarangkan bola ke kanan atas gawang PSS Jogja.
Kedudukan imbang ini menjadikan permainan menjadi lebih seru. Dukungan sekitar 3500 suporter Pasoepati menjadikan permainan Persijatim menjadi lebih hidup. Duet Nunung Indriyanto dan Mardiyansah didukung Ismet Sofyan dan Alessandro harus membuat bekerja extra keras trio pertahanan PSS Jogja, Kahudi, Nova Arianto dan Zaenuri.
Puncaknya lewat serangan balik yang cepat dari sayap kiri Persijatim. Melalui kerjasama satu dua yang manis antara Mardiansah dengan Alejandro, Mardiansah yang sudah tanpa pengawalan berhasil mengecoh kiper PSS Didik Tri Yulianto. Ketinggalan 1-2 melalui Seto Nurdiyantoro yang selalu mensuplai bola ke duet striker Slamet-Risdianto PSS terus memborbardir pertahanan Persijatim. Bermula dari sepak pojok yang diambil Salahuddin berhasil membuat kemelut di depan gawang Persijatim. Bola bergulir ke luar kotak pinalti di mana Sutaji yang sedang ulang tahun ke-27 berdiri bebas langsung menendang dengan keras menyusur tanah. Kiper Solo FC yang sore ini tampil mnegcewakan terlambat menutup datangnya bola sehingga kedudukan menjadi 2-2. Hasil imbang ini tetap sampai turun minum.
Memasuki babak 2 PSS memasukkan Fajar Listiyantoro sebagai striker menggantikan Risdianto yang cedera. Tetapi melalui serangan balik yang cepat Persiajtim berhasil leading melalui kejelian Mardiyansah. Gol yang dicetak pada menit 48 ini bermula dari lowongnya bek kiri PSS. Pemain tengah Persijatim berhasil mengirimkan tembakan keras ke Gawang PSS, Kiper Didik yang kaget berhasil mengeblok bola, tetapi bola bergulir ke kaki Mardiansah yang berdiri bebas tanpa pengawalan. Tanpa menemui kesulitan berarti karena Didik sudah terjatuh Mardiansah berhasil membobol gawang PSS memalui tembakan pelan menyusur tanah.
Kembali ketinggalan 2-3 PSS langsung memperkuat lapangan tengah. Aceng Juanda dan Zaenuri kadang ikut membantu Seto yang berjuang sendiri mensuplai kepada kedua striker. Sutaji pun harus jatuh bangun membangun serangan ke gawang Solo FC. pada menit 77 umpan ke tiang jauh yang mengarah ke "Super" Seto berhasil membuahkan gol yang menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Seto berhasil menciptakan gol manis ini setelah melewati 2 pemain bertahan Solo FC. Sebelum bola jatuh ke tanah Seto berhasil melesakkan tembakan keras yang berhasil merobek gawang Solo FC. Gol ini sebenarnya tidak mperlu terjadi mengingat bola sempat mental di lutut kiper Wawan.
Kedudukan imbang ini membuat PSS semakin bersemangat. Masuknya Nurhuda menggantikan Muh. Ansori dan Adi Pranugroho menggantikan Nova Arianto membuat suplai bola ke kaki Fajar dan Slamet menjadi lebih lancar. Bermula dari serangan sayap kanan PSS, Slamet Riyadi berhasil memberikan umpan tarik yang mengarah ke Seto. Seto pun berhasil membuat PSS unggul 4-3 8 menit menjelang pertandingan berakhir dengan tandukannya yang berhasil menempatkan bola di kiri gawang Solo FC yang dikawal Wawan D yang juga mantan pemain Timnas.
Sayang sekali pertandingan agak diwarnai tindakan tidak terpuji dari para pemain Solo FC. Mereka memprotes wasit dengan tidak sportif. Dorong wasit menjadi pemandangan di lapangan yang membuat para suporter Slemania meneriakkan "Ndeso. Ndesoo!!" kepada para pemain Persijatim. Protes keras ini membuat Nunung "Mr. Cepek" Indrianto mendapatkan kartu kuning.
Manfaatkan Kelengahan
Seusai pertandingan pelatih PSS, Suharno tampak puas dengan hasil yang dicapai tim asuhannya. "Persijatim tampak lengah karena mereka selalu memenangkan pertadingan, dan yang terakhir membantai Kediri dengan skor 4-2," kata Suharno kepada crew www.slemaniac.com. Para pemain Persijatim pun tampak di atas angin mengingat pemberitaan mass media yang selalu menjagokannya.
Suharno juga menambahkan bahwa gol yang tercipta ke gawang PSS tidak perlu terjadi. "Gol-gol Perjatim sebenarnya bukan dari kerjasama yang bagus, melainkan karena keteledoran pemain belakang PSS yang kadang terlambat turun. Pelanggaran Nova terhadap Indriyanto sebenarnya tidak perlu terjadi dan menghasilkan tendangan pinalti untuk Persijatim," tambah dia lagi.
Dia menyatakan bahwa kedua tim bisa mempersembahkan permainan yang menarik sehingga bisa menyajikan permainan bermutu di depan penonton yang memadati Stadion Mandala yang berkapasitas 25.000. "Terima kasih Slemania sudah mendukung PSS Jogja dan pertandingan dapat berjalan dengan lancar," katan Suharno.
Ketika ditanya tentang duet Risdianto-Slkamet Suharno menjawab bahwa itu memang merupakan taktiknya. Fajar disimpan untuk diturunkan di babak II. "Buktinya dengan masuknya Fajar PSS berhasil mengobrak-abrik pertahanan Solo FC," imbuh Suharno. Persijatim sendiri tampak kaget dengan tampilnya Risdianto karena pemain magang PSS ini sering membuat gerakan-gerakan tidak terduga.
Tidak Puas Wasit
Dari pihak Solo FC menyatakan ketidakpuasannya dengan kepemimpinan wasit R. Mas Agus. "Wasit tidak tegas dan adil dan kami pasti akan memprotesnya ke PSSI," keluh M. Zein Alhadad, pelatih Persijatim. "Contohnya ketika Ismet yang ditarik pemain PSS sampai jatuh tapi malahan Ismet yang mendapat kartu kuning. Dan kartu merah yang diterima Alesandro tidak perlu terjadi, seharusnya dia hanya diperingatkan mungkin saja dia tidak mendengar peluit wasit" tambahnya.
Dia juga menambahkan bahwa Persijatim kalah karena wasit jelek sehingga memancing emosi para pemain Persijatim. "Lihat anak-anak emosi dan bermain buruk," tambah Alhadad.
Hal berkebalikan disampaikan Manajer Persijatim Roni Tanu Wijaya. "Kami tidak perlu protes ke PSSI mengenai keputusan wasit karena sudah biasa wasit condong kepada tim tuan rumah. Yang penting para pemain sudah bermain bagus dan menyajikan permainan yang bagus terutama sektor kiri terbukti dari sorak-sorai dari Pasoepati," kata Tanu.
Alesanndro, pemain asing Persijatim asal Chile ini juga mengeluhkan kepemimpinan wasit. Dengan campuran antara bahasa Indonesia dan Inggris dia menyatakan kecewa dengan keputusan wasit. Dia mengaku tidak mendengar peluit dari wasit karena teriakan suporter yang begitu keras.
Data Pertandingan
PSS 4-3 Persijatim
Grup: A
Tempat: Stadion Mandala Krida
Hari/tanggal: Minggu/20 Januari 2002 pukul 16.00
Wasit: R. Mas Agus
Ast. Wasit 1: Muklis AF
Ast Wasit II: Sutamto
Cadangan: Edy S
Kartu Kuning: 5
Persijatim: Indriyanto (25'),Alessandro (babak I, 90')
PSS: Nova Arianto (47'), Adi Pranugroho (90')
Kartu Merah: Alessandro (90'-dua kartu kuning)
Gol:
PSS: Slamet Riyadi (14'), Sutaji (42'), "Super" Seto (70', 82')
Persijatim: Mardiyansah (28'-pen, 48'), Hari S (40')
Pemain:
PSS: Didik Tri Yulianto (kiper), Kahudi Wahyu Widodo, M. Zaenuri, Aceng Juanda, Sutaji, Salahuddin, Nova Arianto (Adi Pranugroho 52'), Risdianto (Fajar Listiyantoro 45'), M. Ansori (Nurhuda 67'), Slamet Riyadi, Seto Nurdiyantoro
Manajer: H. Subardi
Pelatih: Suharno
Persijatim: Wawan D (kiper), Deddi Setiawan, Leo Saputan (c), May Rahman (Leo Syahputra 72'), Ismed Sofyan, Cukup Ageng, Hari Salisuri, Alessandro, Indriyanto, Mardiyansah, Budiman.
Manajer: Rony Tanu Wijaya
Pelatih: M. Zein Alhadad
[ by : crew ]


