14 January 2002
PSS Jogja adalah tim kecil yang berasala dari ibukota kabupaten, tepatnya Sleman. Biarpun tim gurem PSS mempunyai seorang pelatih yang berjiwa besar dan bisa menjadi panutan bagi pelatih lain di Indonesia. Suharno, pelatih kelahiran Klaten ini berhasil memoles PSS menjadi tim yang selalu menjunjung sportifitas di lapangan sepakbola.
Mr. Once, julukan rekan-rekan Suharno karena dia sering mempelesetkan kata "oke" menjadi "once", seperti menggugah dunia sepakbola di kawasan Jogjakarta. Dengan modal pemain lokal sekaliber Eksan, Suharno berhasil membawa nama Sleman dan Jogja untuk lebih dikenal dalam dunia sepakbola Indonesia. Dengan mengikuti Liga Indonesia ketujuh lalu PSS berhasil membuyarkan prediksi media-media nasional yang menganggap PSS layak masuk jurang degradasi.
Gebrakan di awal kompetisi menjadikan bolamania di Indonesia membuka matanya untuk PSS. Pelita Solo, tim bertaburan bintang dengan 3 pemain nasional, berhasil dikalahkan dengan skor 2-1. Tak cukup di situ PSM Makasar berhasil ditahan imbang di Ujung Pandang, itu juga kalau wasit tidak "berat sebelah" bukan tidak mungkin PSS berhasil membawa 3 poin dari Ujung Pandang.
Kecolongan adalah Kambing Hitam
Kekalahan di setiap pertandingan selalu diakuinya. "Ya sudah kita memang kalah, kita harus membalasnya pada parta mendatang," katanya menghibur para pemain PSS Jogja. Kejelekan kepemimpinan wasit bukan menjadi kambing hitam. "Kita tidak mengajarai sistem offside dalam partai tandang. Kita hanya kecolongan dan karena para pemain saja yang lemah," tambah Suharno mengomentari kekalahan PSS.
Pelatih yang berdomisili di Sidoarjo ini selalu tidak mencari kambing hitam apabila timnya kalah. Wajar saja wasit membela tuan rumah, main di kandang lawan itu anggap saja bermain melawan 15 pemain. Walaupun kalah karena wasit, Suharno tetap menyalahkan anak-anak asuhannya dalam menjaga lawan. "Silahkan anda menilai sendiri kepemimpinan wasit, saya anggap wasit bagus. Kita hanya kalah karena musibah dan pemain belakang PSS yang tidak disiplin main 90 menit" ujar dia seusai PSS dikalahkan secara kontroversial oleh PSS Semarang pada 13 Januari 2002.
"Kita jangan main-main apabila main di luar kandang. Andai saja itu offside tetap anggap saja bukan offside. Pokoknya kita harus tetap waspada terhadap pemain lawan sepanjang pertandingan," tandasnya kepada pemain PSS. "Anak-anak hanya lengah saja pada menit-menit akhir," kata Suharno mengakui kekalahan walaupun nyata-nyata PSS dirugikan wasit.
Salut Suharno
Siapa sangka permainan PSS menjadi sangat cantik di lapangan hijau. Pemain mendorong wasit seperti kebiasaan pemain di Indonesia tidak pernah terlihat di setiap partai PSS Jogja. Bahkan ketika Kahudi dan Lessy memprotes keras assisten wasit I karena jelas-jelas Otto Weah berada dalam posisi offside, Suharno malahan memarahi para pemainnya yang memprotes sang pengadil lapangan.
Dalam memprotes pun pemain PSS tidak ada yang menyentuh wasit. Ketika crew www.slemaniac.com menitip pesan supaya Suharno memarahi pemainnya yang mendorong wasit dia hanya tersenyum. "Sepakbola itu kan ada aturannya. Kalau tindakan seperti itu dilarang dalam sepakbola, tentu saja saya akan memarahi anak-anak," kata Suharno di sela-sela latihan PSS di Tridadi.
Pemain bandel di tim PSS pun tidak mendapat perpanjangan kontrak. Bambang Sumantri yang sudah mempengaruhi karakter PSS dan juga kapten tim terpaksa harus hengkang dari PSS. Itu dikarenakan Bambang yang sering bertindak tidak sportif dengan menekel lawan secara cuma-cuma. Bahkan Bambang sendiri kadang bertindak kurang terpuji pada kehidupan sehari-hari di mess PSS dengan mensobek-sobek biodata yang harus dia isi. Kadang juga dia harus mendapat kartu kuning yang seharusnya tidak perlu karena permainannya yang menjurus kasar.
Masih ingat ketika tim PSS dikalahkan Pelita Solo 1-4 di partai pamungkas Ligina VII. Para pemain langsung dimarahi di hotel tempat tim menginap. Permainan asal-asalan yang mengecewakan Slemania bukanlah instruksi dari dia.
Tindakan Dwi "Ambon" Wahyudi pada pertandingan persahabatan dengan klub lokal juga patut diperhatikan. Ambon yang berselisih paham dengan pemain lawan tidak mau bersalaman. Pak Harno langsung membentak-bentak Ambon dan memaksanya untuk meminta maaf kepada pemain yang bersangkutan. Kejadian ini sempat menjadi bahan tertawaan penonton karena kejadian tersebut.
Atas keberhasilannya Suharno sempat menjadi incaran tim-tim Liga Indonesia. Tetapi pengurus PSS langsung sigap dengan mengikatnya untuk Ligina VIII. Maju Terus Suharno!!!!
[ by : yhewhe ]


