Web Komunitas Suporter Slemania | Kamilah Jiwa - Jiwa yang Tidak Terkalahkan

Supported by: LigaIndonesia.com | Bukan Berita Bola Biasa

VOTING

sembari menunggu siapa pelatih yang akan menukangi PSS musim ini. Mari voting siapa pilihan anda ?








Home » News

Di Balik Drama Adu Pinalti Final Piala Tiger

31 December 2002

KEKALAHAN menyesakkan dari Thailand di final Piala Tiger 2002, Minggu malam lalu, masih menyisakan seribu cerita. Terutama ketika berlangsung drama adu penalti yang akhirnya dimenangkan Tim Negeri Gajah Putih itu.

Dua eksekutor Indonesia, Bejo Sugiantoro dan Firmansyah, tak mampu menghasilkan gol. Tendangan Bejo membentur mistar gawang, sedangkan Firmansyah melenceng jauh ke sebelah kanan gawang kiper Thailand, Kittisak Rawangpa.

Publik nasional pun menggugat, kenapa Kolev tak menunjuk pemain-pemain lain yang sebenarnya lebih layak jadi eksekutor. Permasalahannya tak sesederhana itu. Keputusan Kolev untuk menunjuk eksekutor juga bergantung kesiapan pemain. Di sinilah mental yang berbicara.

Konon kabarnya, Kolev sempat bingung menentukan eksekutor karena sebagian besar pemain mengaku takut. Mereka tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk jadi eksekutor di depan ratusan ribu pendukung sendiri. Beban untuk meraih juara membuat ciut nyali mereka.

Gendut Dony Christiawan, misalnya. Ujung tombak asal Persija Jakarta ini sebenarnya sudah ditunjuk sebagai penendang penalti kedua setelah Bambang Pamungkas. Pasti banyak yang setuju dengan keputusan Kolev ini.

Tapi, apa yang terjadi. Gendut ternyata menolaknya dan menyerahkan kepada pemain lain. Terpaksa, penendang penalti kedua diserahkan kepada Bejo Sugiantoro. Kemudian disusul Firmansyah dan Imran Nahumarury. Setelah Imran, urutan berikutnya yang ditunjuk Kolev adalah I Putu Gede, Aples Gedeon Tecuari dan Nuralim.

Lantas, mengapa Gendut menolak sebagai penendang penalti? Hingga kemarin, Gendut masih menolak bicara. "Itu sudah berlalu. Titik," kelitnya.

Tapi, berdasarkan keterangan dari salah seorang pemain yang tidak mau namanya dikorankan, Gendut merasa minder. Dia tidak mau perasaan minder itu nantinya malah membuahkan kegagalan timnas meraih gelar juara, jika ternyata tugasnya sebagai eksekutor gagal membuahkan hasil.

Trauma itu belum bisa dihilangkan karena selama membela timnas, Gendut selalu gagal membobol gawang setiap kali ditunjuk sebagai penendang penalti. Sayangnya, tak disebutkan dalam pertandingan internasional apa sehingga Gendut gagal menjalankan tugasnya sebagai penendang penalti. "Yang jelas, dia tidak mau dijadikan kambing hitam kekalahan Indonesia jika tendangannya gagal," ujarnya.

Niat menolak untuk menjadi pahlawan penalti bagi timnas sebenarnya bukan hanya datang dari gendut. Firmansyah, eksekutor yang gagal selain Bejo, sebenarnya sempat menolak. Alasannya, dia mengalami sakit flu dan masuk angin.

"Sejak awal saya memang merasa tidak yakin sebagai penendang penalti," ungkap pemain asal klub Persikota itu. Tapi, Kolev karena sebagian besar pemain menolak jadi eksekutor, Firmansyah pun bersedia meski akhirnya gagal.(radar sport)

[ by : risfiya ]

<< back to index

Komentar

tambah komentar