05 February 2008
Satu lagi persembahan anak bagsa bagi kemajuan sepak bola Indonesia dan perdamaian di dunia. sebuah buku yang mencoba menguak sisi kemanusiaan dalam sepak bola. "Sepak Bola Tanpa Batas" demikian judul buku yang ditulis oleh Anung Handoko, pria yang telah menyelesaikan masa studinya di salah satu Perguruan tinggi di Yogyakarta, dan berdomisili di Sleman.
Dalam proses penulisan buku ini, penulis banyak berdiskusi dengan kawan-kawan suporter khususnya Slemania. Berikut ini adalah resensi dari buku tersebut :
Suatu pertandingan tidak akan gayeng (seru) tanpa kehadiran suporter (The game isn't the game without its supporter). Begitulah ungkapan yang sering kita dengar apabila membicarakan tentang suporter sepakbola. Suporter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepakbola. Bagi pemain sepakbola, suporter adalah pemberi semangat dan saksi hidup atas pencapaian mereka di lapangan. Bagi klub sepakbola, suporter adalah salah satu sumber keuangan utama selain sponsor dan televisi. Suporter banyak memberi andil bagi pemasukan keuangan klub dengan pembelian tiket maupun souvenir klub.
Kehadiran buku berjudul “Sepakbola Tanpa Batas” ini merupakan paparan yang sangat berharga untuk menjelaskan tentang dinamika yang terjadi dikalangan suporter sepakbola Indonesia. Dari buku ini kita akan mengetahui bagaimana pasang surut dunia persuporteran Indonesia mulai dari era galatama, munculnya suporter kreatif sampai dengan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di Liga Indonesia.
Indonesia dikenal sebagai republik suporter. Hampir semua klub peserta Liga Indonesia memiliki kelompok suporter sendiri. Bahkan ada beberapa klub yang memiliki lebih dari 1 kelompok suporter misalnya PSIS (Semarang) yang memiliki kelompok suporter SNEX dan Panser Biru atau Persib Bandung yang memiliki Bobotoh dan Viking. Banyaknya kelompok suporter kentara setiap kali Timnas Indonesia bertanding. Fanatisme pada klub terbawa saat mendukung Timnas bertanding. Kita akan menemukan banyak warna atribut di Senayan. Namun segalanya mulai berubah pada Piala Asia 2007. Melalui berbagai persuasi kepada kelompok suporter untuk bersatu dalam mendukung Timnas Indonesia, atribut klub mulai ditinggalkan. Hanya ada warna merah dan putih saat mendukung Timnas Indonesia.
Fanatisme suporter Indonesia dalam memberikan dukungan mendapat sambutan dan pujian dari berbagai pihak. Asian Football Confederation (AFC) atau konfederasi sepakbola Asia sebagai penyelenggara turnamen merasa puas dengan dukungan yang diperlihatkan oleh suporter Indonesia yang dimata Internasional dikenal sebagai suporter yang fanatik. Begitu juga dengan pelatih Arab Saudi dan korea Selatan merasa kagum dengan dukungan dan atmosfer yang iciptakan oleh suporter Indonesia.
Bahkan legenda sepakbola Indonesia, Ronny Pattinasarani menyebut bahwa setelah tahun 1950-an, baru kali ini dia merasakan atmosfer yang luar biasa saat timnas bertanding. Bagaimana tidak, setiap kali tim Indonesia bertanding, Stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang berkapasitas 88 ribu penonton selalu terisi penuh. Bahkan masih banyak suporter yang tidak kebagian tiket.
Namun sayang, moment kedewasaan suporter Indonesia tidak berlanjut di level klub. Meskipun berbagai upaya mendamaikan suporter telah dilakukan misal dengan jambore suporter yang telah dua kali dilakukan ( di Puncak tahun 2006 dan di Denpasar tahun 2007), namun kerusuhan suporter tetap saja terjadi. Kasus terakhir yang mencuat adalah kerusuhan yang terjadi pada babak 8 besar Liga Indonesia 2007 yang terjadi saat pertandingan AREMA vs PERSIWA di Stadion Brawijaya Kediri pada haru Rabu tanggal 16 januari 2008 yang dikenal dengan Tragedi Brawijaya 16-01-2008. Kerusuhan terjadi karena ribuan Aremania yang kecewa dengan kinerja perangkat pertandingan (wasit), masuk ke lapangan dan kemudian melakukan pemukulan kepada wasit dan merusak fasilitas-fasilitas yang ada di Stadion Brawijaya.
Mengapa Aremania yang notabene merupakan pelopor suporter terkoordinir pertama dan terbaik di Indonesia melakukan tindakan yang merusak nilai-nilai sportivitas (fair play)???? Masalahnya kompleks...Ada satu temuan dari Dwi Wahyu Prasetiono (staf pengajar Fisip, Universitas Wijaya Putra, Surabaya) yang diungkap dalam buku ini, yang kira-kira bisa menggambarkan situasi Aremania. Dwi Wahyu Prasetiono melakukan penelitian atau kajian dalam kelompok suporter Bonek. Menurutnya, kerusuhan yang dilakukan oleh suporter pada dasarnya merupakan aktualisasi masyarakat marginal. Bonek merupakan masyarakat yang secara pendidikan dan sosial-ekonomi termajinalkan, padahal mereka merasa menjadi bagian dari Surabaya yang ingin teraktualisasi. Bonek kemudian mengaktualisasikan diri mereka lewat sepak bola yang merupakan olahraga populer dan murah-meriah. Sepak bola menjadi tempat bagi mereka untuk menunjukkan kekuatan yang pada kehidupan sehari-hari tidak bisa mereka lakukan. Stadion tempat mengekspresikan atau meluapkan segala perasaan emosional. Bisa teriak-teriak, misuh-misuh, nyanyi dll. Resistensi dari pihak luar akan memberikan Bonek kekuatan yang lebih tinggi. Kekerasan yang kemudian ditimbulkan oleh para Bonek menjadi sarana untuk mengekspresikan kebebasan sebagai pelampiasan kehidupan yang terjepit oleh berbagai macam persoalan.
Dengan demikian, ketika yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh suporter maka yang terjadi adalah ekspresi kekecewaaan penonton yang sayangnya sering kelewatan sehingga terjadilah keributan berupa lemparan, tawuran penonton, pemukulan wasit dll. Itulah yang kemudian terjadi pada kasus kerusuhan yang dilakukan oleh Aremania.
Disisi lain, buku ini juga menceritakan tentang nilai-nilai multikultur (solidaritas dan toleransi) dalam kelompok suporter khususnya yang ditemukan di Slemania (pendukung PSS Sleman). Sebagai salah satu kelompok suporter terbaik di Indonesia, Slemania sangat menghargai adanya perbedaan baik diantara anggotanya maupun dengan kelompok suporter lain. Tidak heran jika kemudian Slemania dijuluki sebagai “santri” oleh kelompok suporter lain karena sikapnya yang ramah, santun dan anti anarkhis. Dan ternyata banyak aktifitas positif yang dilakukan oleh Slemania diluar “tugasnya” mendukung PSS. Misalnya kegiatan sosial yang dilakukan di sekitar wilayah DIY (donor darah, fogging, dropping air dll).
Bertutur dengan gaya bahasa yang santai dan ringan diselingi dengan gambar-gambar kartun dan foto-foto yang menarik, buku ini menarik untuk dibaca. Selain menarik, buku ini juga sarat dengan kritik terhadap stakeholders (PSSI, Klub, Pemain, Suporter, Wasit dll) persepakbolaan Indonesia yang semakin carut marut. Buku ini sekaligus membuka wacana kita tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia sepakbola khusunya di Indonesia.
Seperti yang diungkapkan Prof. Bakdi Sumanto (Guru Besar FIB UGM) dalam kata pengantar, Buku ini memang tentang sepak bola. Tetapi, sebenarnya, issue yang ditawarkannya lebih dari itu, yakni tentang budaya dan kemanusiaan. Mungkin, penulis buku ini melihat bahwa sepak bola does not stand in isolation, tidak berada terpencil dan steril, tetapi berada dalam apa yang disebut kulturgebundenheit atau tarik-menarik kepentingan banyak hal.
Dalam proses penulisan buku ini, penulis banyak berdiskusi dengan kawan-kawan Slemania (Departemen Litbang, Humas Slemania dan Crew Slemania.or.id) mengenai dinamika suporter sepak bola Indonesia. Sungguh suatu usaha yang luar biasa. Selamat atas terbitnya buku ini!!. Dan buku ini cocok untuk menambah wawasan kawan-kawan Slemania. Launching buku ini akan diadakan di MP book point (Demangan) pada tanggal 23 Februari 2008 pukul 15.30 WIB. Acara launching ini juga akan diisi dengan diskusi persepakbolaan dan suporter Indonesia .
[ by : boy/admin ]


