31 December 2007
PSS Sleman menutup rekening musim 2007-nya dengan kemenangan telak 5-1 atas Persiraja Banda Aceh. Hujan gol yang sangat jarang terjadi ini tentu disambut keriaan Slemania. Meskipun tetap tidak dapat mengobati kekecewaan karena gagal naik kasta ke Liga Super.
Ya, Rudy William Keltjes tidak mampu menerbangkan Elang Jawa untuk minimal berada di ranking 9. Target poin yang dicanangkan setelah Lebaran tak bisa diraih. Sederet kegagalan di kandang dan tandang memusnahkan impian Slemania.
Hanya seri di Maguwoharjo melawan Persib dan Persikabo, kalah saat melawat ke Pelita Jaya dan Persita, mungkin masih bisa diterima Slemania asal itu diraih dengan strategi maksimal. Tetapi coba simak komentar Rudy di Harian Jawa Pos setelah kalah dari Persita (24/12), "Saya tidak terlalu ambil pusing dengan Superliga".
Bagaimana bisa seorang pelatih berkilah seperti itu seolah-olah tidak punya cita-cita? Seakan-akan PSS hanyalah tim kampung dan Liga Super cuma tarkam! Oh Bung Rudy, Anda mengecewakan kami semua. Slemania menaruh asa tinggi di otak Anda, tapi intelegensia Anda tidak didukung militansi. Jadilah PSS sebagai tim yang tak punya cita-cita!
Sebenarnya kekecewaan Slemania sudah muncul sejak akhir putaran I saat Francis Mbounjo didepak kemudian Niane Mamadou dan Soulemayne Traore masuk. Holding mildfielder yang bertenaga diganti gelandang dan striker lincah yang pintar meliuk-liuk tapi ringkih. Bukan rahasia lagi kalau Mamadou adalah kesayangan Rudy sejak di Persijap Jepara.
Kekecewaan itu masih bisa dipendam karena beberapa partai yang hasilnya cukup menggembirakan. Tetapi kemudian mulai
terakumulasi saat strategi dan pemilihan starter mulai terlihat ganjil. Pemain pujaan Slemania, Gaston Castano, jarang mencetak gol kalau ditandemkan dengan Mamadou. Mamadou selalu dipertahankan meskipun sering tidak maksimal, setelah membuat gol selalu berlari ke arah Rudy dan tidak membagi kegembiraan dengan Slemania.
Puncaknya saat kalah di Persita. Mamadou diberi ban kapten dan gagal mengeksekusi penalti! Pemain asing yang baru masuk di putaran II dijadikan kapten! William Gallas, pemain asing yang terhitung senior di Liga Inggris, baru bisa menjadi kapten setelah 1 musim di Arsenal. Kapten adalah pemain yang menjiwai rekan-rekannya, sudah seharusnya kapten adalah pemain lama yang disegani, bukannya bocah tak dikenal yang baru datang!
Game pamungkas di Maguwoharjo menjadi harapan Slemania untuk melihat potensi Elang Jawa. Di partai yang sudah tidak menentukan ini sudah seharusnya Rudy menurunkan materi pemain 100% lokal. Selain untuk mengasah para cadangan, juga untuk memunculkan potensi lokal. Ternyata Rudy tidak tanggap. Meskipun hasil akhirnya menggembirakan, tetap saja akumulasi kekecewaan Slemania terhadap Rudy terlanjur menggunung.
Kerinduan Slemania untuk menyaksikan Elang Jawa di puncak prestasi benar-benar tak tertahankan. Slemania sudah bosan melihat PSS dari tahun ke tahun menjadi "tim biasa-biasa saja". Hanya menunggu pemain datang melamar, membesarkan pemain tak dikenal yang kemudian pergi ke klub besar dan finish di posisi aman-aman saja. Slemania ingin lebih dari sekedari itu. Slemania sangat berharap PSS menjadi klub yang punya impian dan cita-cita, karena tanpanya apalah artinya hidup. Dan Rudy William Keltjes bukan pelatih yang tepat untuk membawa Elang Jawa ke cita-citanya. Terima kasih Rudy, cukup sampai di sini.
[ by : welldone ]


