20 December 2007
Memalukan dan menyakitkan!!! Ungkapan itulah yang patut dialamatkan kepada pasukan Rudy W Keltjes. Berlaga di tempat netral, Pelita Jaya Purwakarta tampil perkasa. Menghadapi PSS Sleman di stadion Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, tim besutan Fandi Ahmad itu menang 2-0.
Dua gol Pelita Jaya tercipta di babak pertama, masing-masing dibukukan Jajang Mulyana di menit tujuh dan Cristiano Lopez di menit 14.
Berkat kemenangan tersebut peringkat Pelita Jaya makin terangkat dan mendekati zona Liga Super. Koleksi 46 poin menempatkan Pelita Jaya di posisi sembilan wilayah barat.
Sementara PSS Sleman harus puas dengan 40 poin hingga laga ke-31 mereka. Karena kekalahan tersebut, peluang tim berjuluk Elang Jawa itu berlaga di Liga Super perlahan, tapi pasti, tertutup.
Walau demikian, kerja keras tim besutan Rudy William Keltjes patut diacungi jempol. Hingga peluit panjang ditiup wasit, Fajar Listiyantara cs menunjukkan permainan penuh semangat.
Gol pertama Jajang Mulyana di menit tujuh mengawali kemenangan Pelita Jaya. Memanfaatkan bola sodoran Cristiano Lopez dari sisi kiri pertahanan PSS, striker timnas U-23 dengan mudah melesakkan bola ke gawang Dwi Adi Prasetyo.
Tujuh menit berselang, Cristiano Lopez sendiri yang menggetarkan jala PSS. Ia sukses mengeksekusi hadiah penalti setelah semenit sebelumnya dilanggar Anderson Da Silva di kotak terlarang. Dua gol tersebut bertahan hingga usai pertandingan.
Penampilan ofensif dengan pola 4-3-3 yang diperagakan oleh anak-anak asuh pelatih Fandi Achmad memang luar biasa. Tridente Lopes-Jamul-Adolfo betul-betul membuat kerepotan barisan pertahanan PSS yang digalang oleh George Oyedepo. Determinasi dan semangat yang tinggi serta kekompakan menjadi kunci keberhasilan Pelita.
Situasi berbeda 180 derajat terjadi di kubu PSS Sleman. Meski berhasil menekan tuan rumah tapi pemain-pemain pujaan Slemania ini menampilkan permainan yang kurang greget. Apalagi si kurus Mamadaou yang merupakan anak emas RWK. Berkali-kali tekanan-tekanan yang seharusnya bisa diciptakan menjadi peluang terbuang sia-sia. Justru Castano yang memiliki speed dan jelajah yang tinggi ditarik keluar oleh sang pelatih.
Freddy asisten pribadi Castano seusai pertandingan menyesalkan keputusan pelatih menarik Gaston Castano. Selama ini, Gaston selalu diganti pada saat dia mulai nyetel dengan permainan tim. Sungguh keputusan yang saya kira salah, ujarnya. Pelatih tidak mau terbuka. Saya justru kasihan dengan Gaston, jika hal seperti ini masih selalu dia alami. ini akan berdampak pada sisi psikologisnya, padahal dia masih ingin memberikan yang terbaik buat PSS dan juga Slemania.
[ by : admin ]


