28 November 2007
Hari pertama di bulan terakhir tahun ini PSS Sleman akan kedatangan tamu agung, sang capolista Sriwijaya FC. Ini merupakan pertandingan penting bukan saja karena status Laskar Wong Kito sebagai calon jawara atau grafik Elang Jawa yang sedang menurun, tetapi juga karena tim tamu akan menghadirkan seorang mantan pujaan Slemania.
Tepat, Slamet Riyadi yang dahulu sempat dipuja di Sleman, akan datang kembali sebagai lawan. Tentu kita masih ingat akan liukan & gocekannya yang sering mengacaukan lawan tapi jarang berbuah gol, sehingga ia dijuluki "Spesialis Peluang". Akan tetapi tidak jarang ia menyelamatkan PSS saat tandang dengan gol krusialnya.
Perjalanan si anak hilang ini cukup fenomenal. Besar di klub AMS Seyegan kemudian masuk PSS Junior dan Senior, Slamet Riyadi ikut merasakan suka duka sejak PSS muncul dan berkelana di Divisi Utama. Performanya naik turun seiring gonta-gonti pelatih hingga akhir musim 2005. Dianggap meminta kenaikan nilai kontrak yang tidak sanggup dipenuhi, ia tidak masuk dalam squad PSS 2006.
Slamet kemudian turun kasta, bergabung dengan Persipur Purwodadi di Divisi I. Banyak Slemania yang menyayangkan hal ini dan menganggapnya sudah habis. Hanya mencetak 2 gol dan gagal mengangkat Persipur, tak dinyana Slamet dinilai masih bertaji. Rahmad Darmawan "menyelamatkannya" dari Divisi I untuk bekarir bersama Sriwijaya FC di musim 2007.
Diberi kostum nomor 9 dan bahkan nilai kontrak sebesar Rp 341.250.000 (silakan hitung gaji sekitar 20% dari kontrak), tentu Slamet dianggap masih berkelas. Jika seorang pelatih sekelas Rahmad di tim sekelas Sriwijaya FC membutuhkan Slamet, itu berarti aksinya masih menjanjikan. Kemarin kita bisa menyaksikan bagaimana gocekannya bisa mengacaukan Persib Bandung.
Kangen atau tidak, suka atau tidak, Slamet Riyadi menjadi kebanggaan produk asli Sleman yang go Nasional. Sluman, slumun, Slamet, akan terngiang di memori Slemania Sabtu besok.
[ by : welldone (dari berbagai sumber) ]


