09 October 2007
Liga Super yang mulai bergulir pada tahun 2008 diharapkan menjadi supremasi tertinggi kompetisi antaklub profesional Tanah Air. BLI pun berharap kontestan yang mengikuti kompetisi merupakan tim-tim sarat tradisi.
Sayang, kompetisi yang rencananya bakal diikuti 18 tim tersebut terancam berlangsung tanpa gereget. Maklum, jika mengacu pada aturan kelayakan stadion, sebagian besar tim elite yang saat ini bertengger di papan atas Liga Djarum 2007 tak memenuhi kualifikasi.
Praktis hanya Sriwijaya FC satu-satunya klub papan atas yang dinilai memiliki stadion layak pakai di Liga Super. Markas juara bertahan kompetisi Persik Stadion Brawijaya bahkan masuk kategori wajib renovasi.
“Kami akan renovasi lagi Stadion Brawijaya. Fasilitas mulai ruang ganti hingga lampu telah memadai. Kami perlu pembenahan yang sifatnya tak terlalu besar,” tutur H. M. Maschut, manajer Persik.
Tim-tim zona atas lainnya juga begitu. PSM contohnya. Kandang pengoleksi satu gelar Liga Indonesia, Stadion Andi Mattalatta, dianggap masih di bawah standar.
Mulai dari kapasitas stadion, kamar ganti pemain, hingga ruang wasit semua wajib direnovasi. ''Mau bagaimana lagi? Hingga kini cuma itu stadion yang paling layak yang ada di Makassar dan bahkan Sulsel,'' kata Yopie Lumeindong, asisten manajer PSM.
Sebenarnya sempat ada ide untuk merenovasi besar-besaran stadion yang berdiri untuk keperluan PON IV tahun 1957 di Makassar ini, mimimal menambah kapasitas penonton di tribun terbuka.
Tapi, karena stadion itu bukan aset Pemkot Makassar, rencana tersebut terpaksa batal dilaksanakan. Selama ini stadion Andi Mattalatta dikelola oleh Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS). Yayasan ini berdiri mandiri dan lepas dari tanggungan pemerintah.
Terakhir stadion yang dulu bernama Mattoangin itu direnovasi adalah pada tahun 2001, yakni ketika PSM jadi tuan rumah babak 8 besar Liga Champion Asia.
''Kami sebenarnya bingung mau mengadu ke mana. Sudah beberapa kali kami demonstrasi menuntut supaya stadion Andi Mattalatta direnovasi. Tapi, karena bukan milik Pemkot Makassar maupun Pemprov Sulsel, sulit bagi mereka untuk mewujudkan tuntutan kami,'' ujar Daeng Uki, pentolan Macz Man.
Persija, klub berlabel ibu kota, tak jauh beda. Stadion Lebak Bulus markas mereka dinilai BLI tak representatif lagi sebagai kandang.
Jarak antara penonton dengan lapangan demikian dekat. Jika terjadi kerusuhan keselamatan tim yang bertanding terancam.
Gubernur DKI sekaligus pembina Macan Kemayoran, Sutiyoso alias Bang Yos, sempat menyampaikan niatnya memugar stadion yang dulu merupakan markas Pelita Jaya itu.
Kapasitas penonton dari 10 rencananya bakal ditambah menjadi 30 ribu pada 2008. Namun, seiring selesainya masa jabatan Bang Yos sebagai gubernur, realisasi rencana tersebut menjadi gelap.
Ironisnya, dari tes uji kelayakan tahap I, BLI memunculkan fakta klub-klub semenjana kompetisi divisi utama justru memiliki stadion bagus sesuai dengan standar Liga Super. Sebut saja PSS (Stadion Manguwoharjo) atau Persis (Stadion Manahan).
Semangat tinggi untuk memperbaiki sarana dan prasarana stadion justru diperlihatkan klub yang secara hitungan kertas peluang lolos ke Liga Super tipis. "Fasilitan lampu memang menjadi perhatian kami saat ini seandainya Persma lolos ke liga super. Tapi, ingat, Manado pernah dipercayakan PSSI untuk menggelar final LI beberapa tahun lalu (1999 saat PSIS vs Persebaya)," kata Jantje Supit, ketua panpel Persma, di Manado.
[ by : sumber : bolanews.com ]


