05 October 2007
Drama Pembohongan Bertajuk Sepak Bola
Sejak dipimpin Nurdin Halid, PSSI semakin melegitimasikan diri sebagai organisasi olahraga paling inkonsisten. Betapa tidak, berulang-ulang otoritas sepak bola Indonesia itu menabrak aturan yang mereka buat sendiri. Yang terbaru tentu saja penghapusan degradasi untuk kompetisi di semua divisi. Penghapusan itu merupakan yang ketiga.
------------------------
SEPAK bola adalah drama. Drama yang menghadirkan rasa senang, bahagia, kesal, ataupun sedih. Drama yang melahirkan tangis, baik itu tangis bahagia maupun air mata sedih. Drama yang juga bisa menggugah semangat dan rasa bangga, tak terkecuali mengundang kebencian.
Dalam drama sepak bola, para pemain adalah lakon utamanya. Merekalah yang memegang peran dominan dalam menggugah segala rasa dengan permainannya di atas lapangan hijau maupun di luar arena. Meski begitu, tak jarang pula lakon utamanya diisi wasit, pelatih, manajemen, suporter, atau para pengurus sepak bola.
Seperti halnya yang tersaji di sepak bola Indonesia. Justru para pengurus sepak bola yang bernaung di balik papan nama PSSI yang selalu menjadi pemeran utama. Bahkan, drama yang mereka mainkan jauh lebih hebat dibandingkan dengan apa yang sudah tersaji di dunia sepak bola barat. Bukan saja menghadirkan rasa kesal, sedih, kebencian, maupun tangis, PSSI juga mampu menghadirkan drama bernuansa lain.
Apa itu? "Saya merasa keputusan mereka kembali meniadakan degradasi musim ini tidak hanya menyalahi aturan. Tapi, mereka sudah membohongi rakyat," kata Yusuf Rizal, ketua Indonesia Sport Wacth.
Seperti diketahui khalayak, pada akhir September lalu, PSSI kembali memutuskan untuk menghapus degradasi. Lewat surat keputusan bernomor Kep/12/NH/IX/2007 yang ditandatangani Nurdin Halid, PSSI tidak saja meniadakan degradasi pada musim ini. Otoritas sepak bola nasional itu juga mengobral tiket promosi di masing-masing divisi untuk musim depan.
"Jelas itu sebuah keputusan konyol. Mana ada kompetisi di dunia yang tidak memberlakukan sistem degradasi. Mereka telah membunuh esensi kompetisi sepak bola sekaligus membohongi rakyat," tutur Eddi Elison, pengamat sepak bola nasional.
Esensi sejati sebuah kompetisi sepak bola adalah persaingan. Tim yang memenangi persaingan bakal mendapat penghargaan, sebaliknya yang kalah menerima hukuman. Nah, salah satu bentuk imbalan persaingan di kompetisi sepak bola berwujud promosi dan degradasi.
Jika PSSI menghilangkan esensi itu, apa artinya kalau tidak bertindak konyol. Yang menyedihkan, keputusan menghapus degradasi itu sama dengan membohongi rakyat. Ingat, hampir 90 persen klub yang bertarung di kompetisi Indonesia menggunakan dana APBD yang sejatinya merupakan uang rakyat.
Tanpa penegakan esensi kompetisi, apalah artinya miliaran uang rakyat yang telah digunakan klub-klub dalam mengarungi kompetisi. Apa itu tidak berarti hanya sebuah penghamburan uang rakyat. Kalau sudah begitu, jelas rakyat dikebiri dan dibohongi.
"Kami tidak budek dengan kritik. Tapi, ada banyak argumentasi kenapa kami memutuskan meniadakan degradasi dan memperbanyak tim promosi ke Divisi Utama maupun Divisi I. Semua harus tahu bahwa kasta tertinggi musim depan ada di Superliga," ujar Iwan Budianto, anggota Executive Comittee (Exco/komisi eksekutif) PSSI.
"Dengan perubahan kasta tersebut, tentu sangat tidak adil bagi kami kalau harus memaksa pertandingan satu wilayah di Divisi Utama yang musim depan menjadi kasta kedua. Kami juga memperhatikan karir pemain. Karena itu, dengan berat hati, kami memutuskan meniadakan degradasi dan memperbanyak peserta di Divisi Utama atau Divisi I," paparnya.
PSSI boleh berargumentasi dengan beragam alasan mengenai sikapnya meniadakan degradasi maupun mengobral tiket promosi. "Tapi, beragam alasan itu tidak bisa jadi pembenar bagi mereka untuk menghapus degradasi. Apalagi, saya melihat justru keputusan mereka ini hanya untuk melegitimasi Nurdin Halid agar tetap menduduki kursi ketua umum PSSI," sergah Yusuf.
----------------------------------------------------
Sebuah organisasi yang hendaknya menjadi teladan untuk klub-klub bola di indonesia tetapi kenyataannya hal-hal yang bisa dijadikan teladan pun tidak ada..
Segala Hal di halalkan hanya semata-mata untuk kepentingan segelintir orang saja yang menempati jabatan di PSSI.
Sehingga kita pun sampai sekarang tidak kaget bahwa didalam LIGINA (liga Indoonesia) banyak kejadian yang aneh... katakannlah sesuatu yang besar sekali.." Degradasi" sebuah kata yang sangat di takuti oleh klub-klub bola pengikut LIGINA, tetapi ini bisa disulap menjadi hal yang biasa dan sangat mudah dirubah oleh tangan - tangan terampil PSSI .
[ by : admin ]


