23 September 2007
Suasana Stadion Maguwoharjo, Kala PSS Berlaga
----------------------------------------------
Ketua Umum PSS Sleman yang juga Bupati Sleman Ibnu Subiyanto berencana menjadikan klub sepakbola itu sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Namun, untuk menuju ke arah itu, PSS Sleman harus berhasil masuk ke dalam Liga Super pada kompetisi tahun depan.
“Di sisi lain kami juga masih menunggu perkembangan PSSI,” katanya di Sleman, Sabtu (22/9).
Menurut Ibnu, prinsip dasar PSS target liga super, tetapi dengan perubahan di pucuk pimpinan PSSI terkait dengan penahanan Nurdin Halid. “Itu menjadi tanda tanya besar bagi saya, apakah akan ada Liga Super atau justru malah tidak ada degradasi," ungkap Ibnu.
Lebih lanjut, kata Ibnu, kalau nanti Liga Super tidak jadi diwujudkan maka pengelolaan sepakbola di Sleman (PSS) akan dilakukan seperti saat ini. Tidak perlu membuat tim manajemen yang kuat untuk menopang PSS menjadi tim yang profesional.
"Liga Super tidak ada hanya (PSS) entertainment di masyarakat saja, barulah kalau ada konsensus akan kita tata secara profesional baik para anggota tim maupun tim pendukungnya dan klub," jelasnya.
Pengelolaan secara profesional, kata Ibnu, dilakukan dengan menjadikan PSS sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
"Kalau mau profesional, PSS harus lepaskan dari APBD. Ke depan PSS akan dijadikan semacam Badan Usaha Milik Daerah," jelas Ibnu.
Lebih lanjut, katanya, langkah ini diambil karena ke depan PSS harus melepaskan diri dari ketergantungan pada APBD. Jika selama ini pembiayaan PSS lebih banyak tergantung APBD, maka ke depannya jumlahnya harus dikurangi atau malah sama sekali tidak ada.
"Saya nggak mau menggunakan APBD terus menerus," terang Ibnu.
PSS ke depan akan menjelma sebagai klub sepakbola profesional dan akan menjadi klub sepakbola mandiri. Nantinya PSS akan didanai masyarakat. "Salah satunya kita membuat stadion, di mana nantinya diharapkan dapat menopang PSS sebagai klub profesional," tuturnya.
Hanya saja, kata Ibnu, stadion tidak hanya untuk pertandingan bola saja. "Setahun itu ada 360 hari, kalau hanya sepakbola hanya 18 kali pertandingan atau 18 hari kalau ditambah persiapan hanya 36 hari, jadi ada 324 hari kosong, itu yang akan kita gunakan untuk mendapatkan dana yang bisa digunakan untuk mendanai kompetisi,” katanya.
(sumber:Media Indonesia)
[ by : boy/admin ]


