14 September 2007
DI akhir putaran pertama lalu, Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) menyebut partai kandang PKT Bontang sebagai arena paling nyaman. Namun, jika jeli mencermati pentas LDI XIII, sebenarnya bukan mereka yang patut dikedepankan.
Coba tengok kiprah Surabaya. Sepanjang perjalanan LDI XIII kali ini, Kota Pahlawan mampu tampil dengan warna berbeda. Persebaya, yang selama ini dikenal memiliki suporter anarkis, justru menampilkan kesejukan pada musim ini. Saat pertandingan-pertandingan di kota lain diwarnai kerusuhan, laga di Surabaya selalu berakhir damai.
Tak ada lagi aksi anarkis. Sebaliknya, Surabaya menjadi tempat yang ramah bagi suporter tamu. Itu terbukti dengan kehadiran suporter Deltras Sidoarjo dan Persijap Jepara di Gelora 10 Nopember, Surabaya, musim ini.
"Ini semua terjadi karena kedewasaan suporter dalam mematuhi aturan. Selain itu, aparat bekerja sesuai prosedur. Jadi, apa yang terjadi ini merupakan buah konsolidasi aparat dengan suporter," tutur Achmad Suyadi, ketua Panpel Persebaya.
Selain Surabaya, nama lain yang layak dikedepankan adalah kandang Arema Malang serta Stadion Maguwoharjo yang merupakan markas PSS Sleman. Di setiap pertandingan di dua stadion itulah kenyamanan selalu tercipta.
Tim tamu tetap bisa leluasa memainkan strateginya tanpa harus takut teror penonton tuan rumah. Suporter tamu juga tidak perlu ragu melangkahkan kaki ke dua tempat tersebut.
"Sepak bola bagi kami adalah agama. Stadion merupakan tempat ibadah, sedangkan menonton pertandingan menjadi sebuah ibadah. Karena itu, kami tidak mau mengotorinya dengan perbuatan anarkis," ungkap Daru Supriyono, Sekjen Slemania.
Kedewasaan yang terbangun di tribun Stadion Maguwoharjo bukan disebabkan jargon tersebut. Namun, kehadiran mereka ke stadion juga dibarengi semangat untuk melestarikan kultur sopan santun yang tertanam di masyarakat.
"Kami membawa ideologi Jawa. Kami ini adalah Holigan Jawa. Kami mencintai tim kami dengan cerdas. Ibarat kata kami ini edan, tapi tetap sopan," ujar Daru.
[ by : admin ]


