09 May 2007
(GINASTHEL JEDA KOMPETISI)
Semenjak PSS Sleman ber-homebase di Stadion Maguwoharjo Sleman Jogyakarta, tepatnya sejak musim kompetisi Liga Divisi Utama XII tahun 2007, kata calo tiket jadi buah bibir perguncingan. Semua orang rame-rame mengutuk status calo tiket yang tidak punya identitas, nomor induk kepegawaian, personil yang tidak terdaftar di perusahaan swasta manapun negara di republik ini. Dan bahkan tidak terdaftar dari utusan atau fraksi mana di republic ini. Uniknya, semua kebobrokan itu diumpatkan pada calo tiket yang kasat mata.
Sedangkan di tanah air Indonesia , orang yang memilih pekerjaan calo tiket jumlahnya cukup banyak. Cara kerja calo tiket sangat sistematis mirip dengan ”virus” yang setiap saat dapat menyusup ke sel-sel yang paling sulit dan mampu merusak jaringan sisyem yang sudah ada.
Banyak alasan orang memilih profesi calo tiket. Cara kerjanya mudah dan tidak bertele-tele. Masuk menjadi anggota calo tiket juga tidak sulit, karena tidak harus mencantumkan surat lamaran dan data pribadi atau segepok uang sogok. Peminatnya makin hari bertambah meluber. Itu sebabnya memberantas calo tiket, sama halnya berhadapan dengan penyakit virus yang bisa mematikan setiap saat.
Praktik calo tiket juga memiliki kelas sosialnya, dan punya tarif yang berbeda-beda. Kalau hanya sekadar menjadi calo di tingkat kelurahan urusan KTP atau surat Akte Kelahiran nilainya tidak seberapa.
Beda dengan calo tiket masuk nonton sepak bola di Stadion Maguwoharjo Sleman Jogyakarta, calo tiket tidak punya tarif standar. Kalau calo tiket mengambil keuntungan Rp. 2.000 sampai dengan Rp. 10.000,- untuk satu tiket, nilai pendapatannya sangat beraneka ragam. Satu tiket dengan keuntungan Rp. 2.000,- kalau calo tiket mempunyai 500 tiket, penghasilan sudah mencapai Rp. 1.000.000,- ………….. besarkan?.
Makin banyak tiket yang dijual, makin besar pula pendapatan calo tiket. Cara kerja calo tiket hamper sama dengan Germo. Halus dan tidak terkesan perkerjaannya sebagai ”mediator”. Pandai berlindung pada kekuasaan dan karisma pejabat yang bertanggung jawab terhadap distribusi tiket atau petugas yang berwenang menangkap praktek per-calo-an. Tentu saja tidak semua orang bisa menjadi calo tiket, hal ini karena syaratnya cukup berat.
Ia harus punya kesaktian bila dipukuli penonton lain yang merasa dirugikan, calo tiket juga punya badan perlindungan yang struktur organisasinya tidak berhubungan langsung dengan pejabat atau petugas. Calo tiket yang begini kerjanya rapi dan tak mungkin bisa dibongkar secara terbuka. Yang tahu sang calo tiket, dan tokoh yang empunya kuasa.
Tanpa Bentuk
Sebenarnya percaloan bukan hanya pada saat nonton sepak bola di Stadion Maguwoharjo Sleman Jogyakarta. Sejak republik ini berdiri praktik percaloan sudah ada. Terbukti, bangsa kita bobrok dan hancur karena tangan-tangan dingin para calo yang begitu lihay. Mereka punya kemampuan untuk menyihir dan meyakinkan praktik bodong. Istilah kerennya fiktif dan rekaan.
Anehnya, praktik calo tiket semacam ini dari dulu hingga sekarang meski dikumadangkan untuk diberantas, tetapi tidak juga bisa ditumpas tuntas sampai ke akar-akarnya. Pasalnya, calo tiket tidak punya wadah atau oraganisasi yang dinotariatkan sebagai lembaga. Namun, cara kerjanya yang hampir sama dengan virus. Ia memiliki organisasi tanpa bentuk. atau OTB yang sangat membahayakan dan menakutkan.
Di dunia politik, OTB paling ditakuti, karena bisa menyusup kemana-mana dan menjadi mata-mata. Pekerjaan calo tiket seperti itu selalu mengintip peluang dan kesempatan. Cara kerjanya lincah dan tepat sasaran, mereka tidak menunggu kesempatan melainkan jemput bola.
Sementara di Stadion Maguwoharjo Sleman Jogyakarta supporter PSS Sleman dan masyarakat diimbau supaya jangan membeli tiket dari calo tiket. Malah calon penonton diiming-iming kalau bisa menangkap atau mendapatkan identitas calo tiket akan diberi hadiah tiket dan bonus lainnya, seperti yang pernah direlease di website ini. Semua itu hanya isapan jempol. Percaloan di depan mata kita begitu nyata dan mudah ditangkap. Hanya saja kemauan menangkap calo tiket tidak ada.
Sistem Bobrok
Percaloan tiket jadi subur akibat kebobrokan pada system dan nilai-nlai etika serta moral. Dibukanya peluang pemesanan tiket lewat korwil jauh-jauh hari dimaksudkan untuk menghindari praktek calo. Tapi sang calo malah lebih cerdas. Itu menjadi kesempatan emas bagi jaringan percaloan.
Jaringan yang mereka bangun bukan hanya di kelas social papan bawah, tetapi juga papan atas. Modal yang diperlukan untuk menjadi calo tiket tidak sedikit, kalau saja calo tiket menginginkan 500 tiket, sang calo harus mengeluarkan 50% dari jumlah tiket yang harus dibayar. Yah, sekitar Rp. 2,5 juta itu untuk kelas festival, kalau ditambah dengan kelas VIP atau kelas-kelas yang lain tentunya dipermukan modal yang lebih besar lagi.
Memang dari pihak Panpel tidak dirugikan. Namun untuk penonton yang ingin menyaksikan pertandingan PSS Sleman dan Slemania yang senantiasa diminta atau dihimbau untuk beraksi dan bernyanyi dalam mendukung laga PSS Sleman demi meraih kemenangan, jelas-jelas akan mengeluh, akibat percaloan kantong pendukung PSS Sleman dan penonton akan terkuras setiap menyaksikan pertandingan PSS Sleman.
Penonton dan Slemania tak bisa berbuat banyak. Mereka cuma bisa mengelus dada dan pasrah. Menangispun tak ada gunanya. Mau mengadu ? Sama siapa ? Karena setiap ada pertandingan sepakbola di Stadion Maguwoharjo Sleman Jogyakarta atau setiap PSS Sleman bertanding disitu ketemu calo tiket.
Bagaimana memerangi calo tiket?!!. Jawabnya ada kesanggupan untuk bersatu melawan calo tiket, tentang mekanisme dan prosedur tentunya sudah pada mengerti dan faham. Hanya saja kapan dilaksanakan kometment memberantas calo tiket, tentunya harus ada sesuah kesepakatan. ……….. Betul Tidak ?!!
[ by : Sri_QQ/SlemsCyber ]


