20 March 2007
(GINASTEL MBAH DHIRON)
SIAL sekali saya hari ini …….!! Saat hujan lebat, sepeda motor saya mogok. Sudah kehujanan, ribet dengan jas hujan, saya harus mendorong motor juga
Mau motong lewat jalan kampung, pasti lebih repot lagi karena jalan setapak pasti licin dan becek akibat air hujan. Oleh karena itu, saya menggunakan jalan aspal yang baru dibangun.
Eh, ternyata jalan tersebut terendam air setinggi mata kaki. Sialnya lagi, sepeda motornya berat untuk diborong. Padahal, sepeda motor ini terbilang baru, baru didatangkan dari negeri Tanggo
Tak berapa lama, sampailah saya di muka rumah Mbah Dhiron. Saya pikir, saya bisa memperbaiki motor dulu di rumah Mbah Dhiron sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah.
Lumayan, biasanya dirumah Mbah Dhiron disiapin pisang goring dan wedang teh ginastel .
"Mbah Dhiron... Kulonuwon, asalamualaikuuummm!" kata saya membuka pintu pagar rumah Mbah Dhiron.
"Waalaikumsalammm...Mas! Eualah Mas...
kehujanan?" jawab Mbah Dhiron yang terlihat sedang santai di teras rumah.
Seperti dugaan saya, sepiring pisang goreng dan wedang teh ginastel terhidang di meja tamu. Terlihat asap masih mengepul dari pisang goreng. Hemmm... pasti hangat euy!
"Hehehe...! mari, ke sini masuk Mas! Kasihan sekali sampai basah kuyup gitu!" Mbah Dhiron tersenyum. "Motornya masukan sekalian Mas, bisa karatan... hehehe," kata Mbah Dhiron.
"Ah, Mbah Dhiron ini ... masa motor baru saya bisa karatan. Tapi, motor memang mau saya masukkan, boleh to Mbah Dhiron. Tadi mogok. Saya mau memperbaikinya di sini, sekalian...!" kata saya
"Silahkan saja Mas... memang bisa dibongkar di sini? Dibenerin di sini?" tanya Mbah Dhiron.
"Hehehe... tadi dalam pikiran saya... sekalian benerin motor, sekalian makan pisang goreng sekalian ngobrol-ngobrol disini... hehehe," kata saya.
"Heuheuheuy... betul Mas! Silahkan ginastelan saja dulu, mbetulin motornya nanti aja kalau ujan udah reda. Ini Mas... mumpung teh masih panas dan pisang gorengnya masih ngebul nih," kata Mbah Dhiron
"Ah, matur nuwun! Memang ini yang saya tunggu...," kata saya.
"Iya lah..... Ngomong-ngomong, kenapa motor kamu bisa mogok? Kan, kamu baru beli motor beberapa bulan yang lalu?" tanya Mbah Dhiron.
"Itulah Mbah Dhiron..., kayaknya sih saya salah beli motor. Salah merek kayaknya sih," kata saya.
"Kenapa emang, kan sama-sama buatan luar negeri? Memangnya merek berpengaruh Mas?" tanya Mbah Dhiron lagi.
"Ya, iya Mbah Dhirooooon!
Motor yang saya beli ini, mereknya “Agentino’s”. Mungkin karena merek itu, motor ini susah jalan, susah maju. Mogok wae!
“Beda sama yang dulu….! Yang dulu mereknya 'Karinego'. Jarang mogok dan selalu bersih, suratnya komplit tinggal didaftarkan aja. Pokoknya, tinggal ngejas," kata saya.
"Hahaha.. Ya ndak gitu, Mas! Motor kamu yang dulu 'Karinego' yang ngurus semuanya kan bapak kamu. Sekarang, kamu sudah bisa beli motor sendiri, ya jelas harus kamu yang ngurus dan bertanggung jawab. Mereknya apa tadi Mas? 'Agentino’s'? Heuheuheuy... salah kamu Mas, beli motor ndak melihat-lihat kualitas dan performance," kata Mbah Dhiron.
"Ih, saya melihat dari tongkrongannya sih bagus banget, keren dan kinclong. Lagi pula, harganya juga lumayan tinggi. Kata pepatah, duit sih tidak pernah berbohong," kata saya berkilah.
"Pepatah mah tidak pernah salah Mas. Duit memang tidak pernah berbohong. Cuma, manusianya yang suka berbohong. Nah, merek motor kamu itu persis sama dengan sepak bola kita, Susah maju dan cepat mogok, harus didorong pula!" tutur Mbah Dhiron
"Hehehe... bener juga! Tapi kenapa ya? Kan, kita sudah bikin program untuk latihan di luar negeri, pakai pemain asing, pelatih asing, malahan segala-galanya berbau luar negeri, termasuk stadion" kata saya.
"Lha karena mental orang-orang kita yang seperti merek motor kamu yang dulu, karinego! Kita senangnya tinggal pakai tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri. Tidak berusaha untuk membuat program sendiri. Kita termanjakan.” Kata Mbah Dhiron
“Ndak ngerti barang! Bisanya tinggal pakai, tinggal kontrak, tinggal bayar. Kita tidak pernah bertanya dari klub mana dia didatangkan, dari mana siapa yang mendatangkan, dari mana duit datang, dari mana cari duitnya. Pokoknya karinego!" papar Mbah Dhiron.
"Pantesan kita susah maju ya.... Semuanya serba enak, serba mudah!" kata saya.
"Makanya, orang-orang kita mah dikasih susah sedikit langsung mengeluh. Kayak kamu nih..., motor mogok bukannya dibawa ke bengkel malahan dibawa ke sini," kata Mbah Dhiron lagi.
"Ih, kan di bengkel tidak ada pisang goreng dan teh ginastel? kalau di sini sih ada! Soal jadi bener atau tidak sih bagaimana nanti saja, urusan belakang aja" kata saya.
"Nah, sekarang baru rebut, kan..." Mbah Dhiron pun tersenyum
Selamat Tinggal Sir Horacio A Montes well Sugeng Rawuh Willian Kaltjes
[ by : Sri_QQ/crews ]


