28 May 2002
R.Supriyoko, ketua panitia syukuran tampaknya tidak mau acaranya berjalan tidak lancar. Sosok yang biasa dipanggil Kang Yoko ini rela bermalam di stadion Tridadi untuk memastikan panggung, dekorasi, dan sound beres. Sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia jika melihat acara syukuran yang berlangsung aman, tertib, dan meriah.
Saat menunggu pembagian cocard panitia, Nur Agung, salah satu personel Slemania Godean "diteror" oleh seorang cewek misterius melalui ponselnya. Uniknya, sang cewek melakukan misscall melalui nomor yang berbeda-beda tiap sekitar 5 menit. Saking gemesnya, akhirnya dilakukan teror balik dengan membagikan nomor terakhirnya kepada sekitar tujuh panitia lainnya. Akhirnya, Feri 'pei' Istanto melalui ponsel Sigit, sekretaris Slemania sempat "berkenalan" dengan cewek yang mengaku bernama Monika tersebut.
Kuncoro "Kuncung" Tri PH, sekretaris panitia yang juga personel Slemania Timoer mempunyai kesibukan baru saat acara syukuran berlangsung. Cowok subur ini menjadi pengarah gaya bagi Kusuma "Ajoe" Kinanti yang menjadi VJ dadakan dokumentasi acara. Mengenakan batik, Kuncung yang mirip pejabat pemda ini juga membuat naskah yang harus dibacakan.
Empat personel Slemania, Agus Dewantoro, Nugroho Widi Asmara, Sulistyo Budi dan Dading Jatmiko secara berderet diwawancarai oleh SKH Bernas. Mereka diwawancarai seputar Piala Dunia 2002 dan dimuat oleh Bernas pada tanggal 27 Mei 2002. Walaupun agak canggung saat difoto, tapi komentar-komentarnya bagus juga. "Harusnya suporter Inggris malu kalau tidak bisa tertib kaya Slemania, padahal membawa nama negara", ujar Dading dalam rubrik tersebut.
Usaha panitia menghias mobil pick-up yang rencananya dipakai untuk mengirab pemain ternyata sia-sia. Mobil yang dihias dengan hiasan mirip untuk karnaval anak TK ini kosong melompong selama perjalanan. Para pemain yang seharusnya kumpul pagi hari terlambat dan langsung ke Tridadi.
Dalam rapat terakhir panitia, Asep, personel Slemania Sinchan menyatakan bahwa laskarnya tidak bisa ikut lomba karnaval karena Jathilan. Lho apa hubungannya? ternyata sebagian anggota Slemania Sinchan menjadi penari jathilan yang kebetulan hari Minggu tersebut sedang ada "tanggapan".
Keseriusan laskar Slemania dalam mengikuti lomba karnaval patut diacungi jempol. Rapat-rapat langsung digelar untuk menghadapi lomba tersebut. Bahkan beberapa laskar seperti Slemania Piranha menggelar latihan gerak dan nyanyi di lapangan pada malam hari. Hasilnya, memang tampak rapi dan menarik.
Walaupun hanya berkekuatan 5 personel, Laskar Slemania Caboel (Cah Boelaksumur) nekat mendaftar lomba karnaval. Start dari pole position ke enam, laskar ini menggandeng Laskar Atmajaya & Mrican untuk bergabung. Di tengah jalan beberapa Slemania solo karir yang melihat laskar "obar-abir" ini ikut bergabung. Makanya jangan heran, kalau sampai garis finish ada sekitar 50 motor yang ada dalam barisan.
Delegasi Slemania Atecraz (Anak Tepi Krasak) patut diacungi jempol. Menurunkan tim Atecraz Cycling Club, yang menggunakan sepeda mereka sudah hadir sejak jam 08.00 WIB. Padahal laskar yang dikomandoi Pak Totok ini harus menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer dan berangkat jam 06.30 dari batas propinsi di kecamatan Tempel. Selain pasukan bersepeda, Atecraz juga mengirim tim bersepeda motor yang tergabung dalam Atecraz Tabrak Lari!
[ by : crew ]


