Web Komunitas Suporter Slemania | Kamilah Jiwa - Jiwa yang Tidak Terkalahkan

Supported by: LigaIndonesia.com | Bukan Berita Bola Biasa

VOTING

sembari menunggu siapa pelatih yang akan menukangi PSS musim ini. Mari voting siapa pilihan anda ?








Home » News

PSS Usulkan Liga Indonesia Satu Wilayah

19 May 2002

Rencana PSSI menggelar kompetisi Liga Indonesia musim 2002/2003 dengan menciutkan peserta dari 24 menjadi 16 klub perlu dipertimbangkan lebih jauh. Untuk menggairahkan minat publik terhadap perkembangan sepak bola di Tanah Air, sebaiknya jumlah peserta tidak diperciut sampai 16 klub, tetapi diikuti 20 klub, tanpa membaginya menjadi dua grup.

Demikian dikemukakan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Sleman (PSS) Yogyakarta Ibnu Subiyanto dan Ketua Harian/Manajer PSS Yogyakarta H Subardi secara terpisah, Kamis (16/5). Subardi mengaku telah mengirimkan hasil analisisnya kepada PSSI mengenai untung rugi menggelar kompetisi Liga Indonesia, baik dengan 16 klub maupun 20 klub dalam format satu grup. "Kita berharap PSSI terbuka terhadap masukan konstruktif dan ekonomis sehingga minat publik terhadap sepak bola nasional terus bergairah," kata Subiyanto yang diiyakan oleh Subardi.

Subardi menjelaskan, jika kompetisi Liga Indonesia diikuti 20 klub tanpa membaginya menjadi dua grup, maka selama putaran penyisihan setiap tim bertanding 19 kali. Bandingkan dengan jika 16 klub, yang berarti pertandingan hanya 15 kali. Dengan asumsi setiap pertandingan ditonton 15.000 orang yang membeli tiket rata-rata seharga Rp 10.000, berarti selama putaran penyisihan diperoleh pemasukan Rp 2,85 milyar (19 x 15.000 x Rp 10.000). "Angka itu sungguh berlipat ganda dibanding jika peserta Liga Indonesia hanya 16 klub," paparnya.

Subardi mengakui, dengan 20 klub peserta, setiap tim memang harus menambah biaya operasional sampai Rp 412 juta. Akan tetapi, dengan menjual pertandingan yang lebih banyak (19 kali), pembengkakan biaya itu bisa tertutupi. Bahkan, pemasukan dari penonton dan sponsor yang berlipat ganda sampai milyaran bisa merupakan peluang menjadikan sepak bola sebagai industri.

"Dari sisi penonton saja, tim bisa meraup angka milyaran rupiah. Belum lagi, kalau diperhitungkan dari pemasukan sponsor. Semakin banyak event pertandingan, semakin tinggi minat sponsor berpartisipasi," ujar Subardi. Subardi yang sukses mengantar PSS bertahan di Divisi Utama PSSI, memperkirakan pemasukan dari sponsor akan berlipat ganda pula jika animo masyarakat menonton sepak bola tidak mengendur.

Selain dari sisi pendapatan, Subardi juga melihat sisi positif terhadap profesionalisme pemain jika jumlah klub 20 tanpa dibagi dua grup. Pertama, masa kompetisi akan menjadi lebih panjang dua kali lipat dari format yang telah dilakoni selama ini. Dengan adanya kompetisi sepanjang tahun, hampir tidak ada waktu lowong (vakum) bagi pemain. Kondisi itu membuat prestasi pemain dan tim terus terasah.

Kedua, publik sepak bola di Tanah Air tidak terdikotomi wilayah Barat dan Timur. Dengan makin banyaknya pertandingan, maka publik sepak bola di Irian Jaya, misalnya, bisa mengenal peta kekuatan tim dan pemain dari Sumatera, seperti Kota Padang, Kota Medan, atau Kota Bandarlampung. "Dari sisi nasionalisme, kondisi ini bisa menjadikan sepak bola punya andil yang besar. Format dua grup selama ini, telah membuat orang Irian tidak kenal dengan pemain sepak bola dari Sumatera," Subardi memberi contoh.

[ by : crew ]

<< back to index

Komentar

tambah komentar