30 October 2001
Tuntas sudah tugas Slemania untuk mendukung PSS di pinggir lapangan pada musim ini. Slemania hadir dalam 15 kali pertandingan dari 25 pertandingan PSS. Tiga kali Slemania melakukan tandang, yaitu ke Jepara, Sidoarjo, dan Solo. Selama itu pulalah pasang surut mewarnai aksi Slemania.
Pada awal musim, Slemania langsung belajar pada kawan-kawan Pasoepati dan Aremania. Nyanyian dan gerakan juga diadopsi dari dua suporter atraktif tersebut. Sampai separuh musim perkembangan Slemania sangat menggembirakan, selain jumlahnya bertambah, Slemania juga kompak dalam memberi dukungan pada kesebelasan kesayangannya.
Sayang, pada putaran kedua grafik aksi Slemania justru turun dan tidak kompak. Slemania baru kompak jika timnya menang atau unggul, namun saat kondisi tertekan dan kalah slemania justru ikut-ikutan melempem.
Membosankan
Mengapa? Ada beberapa hal yang mungkin dapat menjelaskan kenyataan tersebut. Yang pertama adalah rasa bosan dengan nyanyian dan gerakan yang "itu-itu saja". Latihan nyanyi dan gerak yang dilakukan pada awal musim ternyata menjadi bumerang karena Slemania akhirnya minim variasi gerakan. Hasil latihan dijadikan pakem dan paten, sehingga ada rumus "kalau lagu begini, geraknya begini".
Padahal jika kita amati suporter lain, gerakan mereka variatif, tidak rumit dan tidak membosankan. Rumusnya sederhana: Lakukan bersama-sama!
Sebuah gerakan sesederhana apapun, akan menjadi indah dan asyik jika dilakukan bersama-sama. Gerakan tepuktangan diatas kepala, balik badan, atau cuma goyang badan kedepan belakang akan enak dipandang jika dilakukan ribuan orang.
Butuh Dirigen
Akibat lain dari patennya gerakan Slemania adalah tidak optimalnya fungsi dirigen. Dirigen sering merasa tidak dihargai karena tanpa dirigen, Slemania sudah bisa bergerak sendiri. Akibat yang lebih buruk, beberapa dirigen malas untuk maju memimpin rekan-rekannya.
Padahal layaknya pasukan perang, Slemania membutuhkan dirigen yang mengatur penyerangan dan pertahanan. Dirigen harus tahu persis bagaimana kondisi Slemania, sehingga tahu kapan harus menyanyi, istirahat, atau cukup tepuk tangan.
Kalau mengamati dirigen kelompok suporter lain, seperti Yuli & Kepet (Aremania), Gondrong (Pasoepati), atau Iqbal (Jakmania) sebenarnya tidak diperlukan syarat dan keahlian khusus untuk menjadi dirigen. Dirigen nggak harus pandai menari atau nyanyi. Yang diperlukan adalah orang yang percaya diri, atraktif (nggak loyo), dan mau terganggu keasyikannya menonton sepakbola (karena dirigen biasanya membelakangi lapangan).
Lagunya sulit dinyanyikan
Kebosanan terhadap lagu dan gerakan tersebut semakin diperparah dengan komposisi lagu-lagu yang dimiliki slemania. Saya tidak bermaksud menyalahkan pembuat lirik atau penggubah lagu, tapi yang perlu disadari adalah lagu-lagu slemania sulit dinyanyikan dalam kondisi capek.
Gambarannya begini, nama klub kita P-S-S harus diteriakkan dengan sepenuh tenaga agar terdengar jelas dan keras. Ini berbeda dengan suporter klub lain seperti Pelita, Persija, dan Arema yang diucapkan dengan setengah tenaga saja sudah terdengar cukup keras. Ini pernah saya buktikan ketika sewaktu konvoi pulang dari tridadi, kawan-kawan menyanyikan lagu "ayo..ayo PSS, berjuang kamu harus menang...", saya malah nyanyikan "yo..ayo ayo pelita...." dan suara saya jelas lebih jelas walaupun tidak menyanyi sekuat tenaga. Ini jadi pelajaran, bahwa meletakkan kata PSS di akhir bait lagu akan menyulitkan. Lebih baik mengganti dengan idiom lain seperti sembada, atau si elja.
Masih berhubungan dengan lagu, seorang kawan menilai bahwa lagu-lagu slemania tidak memberikan sedikit waktu untuk menarik nafas. Ia mencontohkan lagu Pasoepati "hahahaha-hahaha, hihihihi-hihihi pelita kalah lagi... 2X" yang lebih enak dinyanyikan daripada "hahahahaa ha hihihihii hi PSS kalah lagi 2X". cobalah dan rasakan!
Gebukan drumnya semrawut
Seperti biasa slemania selalu membawa drum sebagi penyemangat dan iringan aksi. Sayangnya penggebuk drum yang jumlahnya cukup banyak (sekitar 20 an drum) itu nggak kompak dan minim variasi. Sampai-sampai suara gebukannya kalah sama kawan-kawan Ultras gresik saat di Tridadi. Padahal Ultras saat itu hanya membawa sekitar 5 drum.
Ketidakkompakan penggebuk drum ini memang kadang membikin jengkel kawan-kawan yang lain, hingga berakibat mogok nyanyi. Masalah ini kemungkinan dapat diatasi dengan latihan bersama dengan memakai instruktur berpengalaman (drummer atau anak marching). Setiap aksi para drummer slemania juga perlu seorang dirigen agar bisa lebih kompak.
***
Aksi Slemania memang masih menyisakan banyak kekurangan, namun saya yakin bisa diatasi asal kita punya kemauan. Sebagai langkah awal mungkin bisa dicoba mengadakan lomba aksi antar kelompok (sekitar 30 orang). Dari situ mungkin akan muncul tepukan, lagu, gerakan atau atraksi baru yang bisa dipakai oleh slemania. Siapkan tim kreatif (Dading dkk) yang nantinya akan memimpin slemania di stadion di musim mendatang. Tunjukkan bahwa kita bisa kreatif dan kompak. salam
[ by : maspei ]


