02 December 2006
Slemania Jabotabek Lahir diantara Kopi dan Cireng
Keberhasilan PSS Sleman mampu menahan imbang Pelita Krakatau Steel, menyisakan kegembiraan bukan hanya dirasakan oleh pemain, pelatih dan para pendukung PSS Sleman yang datang menyaksikan pertandingan di Stadion Krakatau Steel, tetapi juga menjadi pembicaraan yang hangat di masyarakat Kota Baja, bahkan harian lokal Fajar Banten menempatkan berita pada halaman pertama dengan judul Pelita KS dipermalukan tim kampung dari Jogya PSS Sleman
Malam harinya, di Hotel Sukma tempat skuad Elang Jawa menginap tidak diduga dan tidak dinyana, Ngatidjo, Sukoco dan Sri Sutarto bertemu untuk memberikan selamat kepada M-Eksan dkk, maka terjadilah pesta makan. Ngatidjo menyiapkan 350 tusuk sate bebek, makanan khas Cilegon. Sri Sutarto membawa 40 buah durian yang sengaja dibawa dari kebunnya di desa Mancak. Dan semuanya baru mengetahui kalau ternyata Jaldecir "Deca" Dos Santos, Didik Tri Yulianto paling suka makan sate bebek
Sukoco yang berasal dari Berbah dan Ngatidjo yang asli Godean berembuk bagaimana caranya dapat datang ke Stadion Lebak Bulus Jakarta untuk menyaksikan laga tandang ke-2 PSS Sleman melawan tim elit Ibukota Persija Jakarta, sedangkan Sri Sutarto belum terpikirkan untuk bergadung dengan Koco dan Ngatijo. Pasalnya, Sri Sutarto atau yang akrap dipanggil Masri lahirnya tidak di Sleman, melainkan di Imogiri Bantul dan lebih mengidolakan PSIM ketimbang PSS Sleman, karena sering bareng PTLM saat melihat tim pujaanya bertanding di Stadion Mandala Krida Jogyakarta
Pada hari Kamis, (16/1) 2003 saat Sri Sutarto akan mengganti oli motornya di Bengkel Eka Sakti dikejutkan oleh pemilik bengkel yang menggunakan kaos ijo bertuliskan Slemania, ternyata Rudi Bengkel yang permah dilihatnya saat menyaksikan PSS Sleman main di Stadion Krakatau Stell.
Pembicaraan mengenai Slemania menjadi lebih panjang, apalagi PSS Sleman pada laga hari Rabu (15/1) mampu menahan imbang 1-1 Persija Jakarta. Maka keinginan Rudi Bengkel untuk membuat laskar Slemania di Cilegon menjadi awal berdirinya Slemania Jabotabek, karena pada malam harinya disepakati untuk mengadakan pertemuan di Anyer rumahnya Koco
Empat orang, Koco, Ngatidjo, Sri Sutarto, Marjono dan Bagong Sunoko hadir dalam pertemuan Anyer, dengan ditemani kopi dan cireng (aci digoreng) menyepakati nama laskar-nya Slemanecis (Slemania Merak-Cilegon-Serang), dimana Sri Sutarto ditunjuk sebagai koordinatornya. Sayang, Rudi Bengkel absen dalam pertemuan Anyer tersebut. Maka pada tanggal 16 Januari 2003 ditetapkan sebagi hari lahirnya Slemania Jabotabek
Bagaimana peran Ferry “Pei” Istanto melahirkan Slemania Jabotabek ?,
Nantikan Story of Slemania Jabotebek pada edisi ke-3, …………………….sampai jumpa
[ by : sri_qq/admin ]


