Web Komunitas Suporter Slemania | Kamilah Jiwa - Jiwa yang Tidak Terkalahkan

Supported by: LigaIndonesia.com | Bukan Berita Bola Biasa

VOTING

sembari menunggu siapa pelatih yang akan menukangi PSS musim ini. Mari voting siapa pilihan anda ?








Home » News

Seputar Pemakaman Yhewe: Ashes to Ashes, Dust to Dust

13 April 2002

Rabu, 10 April 2002, jam 13.15, langit kota Jogja cerah, ketika iring-iringan pengantar jenazah Yudho "Yhewe" Wasono mulai berangkat dari rumah duka di Jl.Ki Mangunsarkoro 33A, Gunungketur, Pakualaman. Pada bagian terdepan, rombongan Slemania dari berbagai laskar dan pemuda kampung Gunungketur menjadi pembuka jalan. Sebuah bendera Hijau-Putih dengan tulisan PSS yang dibawa Nugroho Widi Asmara, ketua Slemania Caboel berada pada bagian tersebut.

Di belakangnya iring-iringan sepedamotor dari Teknik Elektro, Alumni SMP 1 Yogyakarta, Siswa & Alumni SMU 3 Yogyakarta, berbaur menjadi satu. Setelah itu sebuah mobil ambulance dengan karangan bunga dari Slemania berjalan dalam kecepatan sedang, diikuti iring-iringan mobil pribadi dan bus yang membawa pelayat sepanjang sekitar satu kilometer.

Pada Ambulance tersebut, terbaring Yudho "Yhewe" Wasono, webmaster www.slemania.or.id dan Humas Slemania mengenakan jas warna hitam. Di Dalam peti jenazah, terdapat beberapa barang kesukaannya, yaitu sebuah boneka kecil, kaos Slemania, Kethu Slemania, Syal Espana-Euro 2000, dan Syal Aremania.

Rombongan berjalan sepanjang kurang lebih 20 kilometer ke makam keluarga di Degolan, Jl.Kaliurang Km 15 Yogyakarta. Iring-iringan sampai di lokasi pemakaman kurang lebih pukul 14.15 WIB, dan segera dimulai prosesi pemakaman.

Di bawah langit yang mulai mendung, webmaster kelahiran 8 Oktober 1981 tersebut dimakamkan. Beberapa teman sekolah ataupun Slemania tampak tidak kuat menahan haru dan memilih duduk di luar makam. Banyak yang masih tidak percaya dengan kenyataan ini.

Bagaimanapun, Yudho telah memilih jalannya. Ketika Ia akhirnya berakhir di lapangan sepakbola, Ia membuktikan kecintaannya yang besar pada sepakbola. Ia adalah manusia sepakbola, baik sebagai pemain ataupun suporter.

Sekitar jam 16.15, gundukan tanah baru telah tercipta di makam Degolan. Satu per satu pelayat meninggalkan makam tersebut, beberapa berhenti di rumah kakeknya, sebagian langsung turun ke kota Yogyakarta.

Ashes to ashes, dust to dust.

[ by : crew ]

<< back to index

Komentar

tambah komentar