13 April 2002
"Halo, piye Yud?"
"Eh, www.slemaniac.com wis sukses dipindah nang www.slemania.or.id"
"Oh, ya. Aku wis ngecek wingi nang warnet"
"Tapi aku ra iso melu nang Gresik ki"
"Ujian Mid?"
"Iyo, dosenku ki wagu kok. Masa gara-gara kancaku gak maju presentasi, trus langsung ngumumke mid minggu depan,....alamat gak melu nang gresik"
"Aku yo durung pasti, ndelok gaweyanku akeh ora"
"Eh, aku cukur ki, mbuang sial, ben gak degradasi"
"Hehe, gundul?"
"Gak, tipis wae....bar iki aku main lawan Pertanian"
"Jam piro?"
"Jam kedua, jam papat, tapi paling aku gak dipasang, soale mainku wingi elek"
"Hmm, yo wis mengko tak nonton"
Satu jam kemudian aku meluncur ke Stadion Madya, Lembah UGM, setelah sempat mampir di tempat nongkrong Slemania Caboel di Kantin Bonbin Sastra. Sesampai di stadion, sedang berlangsung pertandingan pertama antara Fakultas Kedokteran Hewan dengan Geografi.
Setelah parkir, langsung naik ke tribun dan bertemu dengan pacar Yhewe, Elieve dan teman SMAnya, Andika. Tak lama aku berjalan ke tempat duduk Yhewe setelah ditunjukkan Elieve. Dari tas ranselku, aku segera mengeluarkan kaos PSIM yang baru kubeli.
"Hei, aku tuku pas wingi latihan PTLM (Paguyuban Tresno Laskar Mataram)"
"Piro?"
"Wolulas ewu nang nggone pak Sunarto Idya"
"Apik ki, sesuk kemis ana latihan maneh to?"
"Ya"
"Yo wis, sesuk nak ono dhuwit tak tuku"
Tak lama kemudian aku balik ke tribun atas dan duduk lagi disamping Elieve. Setelah pertandingan pertama selesai, Yhewe dan pemain-pemain Teknik segera turun dari tribun dan melakukan pemanasan. Yhewe mengenakan Kaos Slemania edisi terakhir, dan celana pendek putih bergaris hijau-kuning. Ketika wasit berjalan ke tengah lapangan, pemain teknik berganti kaos tim UGM, Yhewe mengenakan nomer 17 dan berposisi sebagai stoper.
Pertandingan berlangsung sekitar 7 menit, ketika bola dicross ke mulut gawang Teknik, dan berhasil disapu. Semua bek Teknik naik utk menjebak offside, tiba-tiba ada satu pemain yang tergeletak di muka gawang di sisi selatan lapangan. Setelah melihat komposisi pemain Teknik di tengah lapangan, aku baru sadar kalo itu Yhewe. Dua anggota panitia segara berlari mendekat dan mengangkat Yhewe ke samping gawang.
Dari tribun aku bisa melihat panitia memberi pernapasan buatan. Tiga menit kemudian aku turun dari Tribun dan mendekat bersama seorang panitia lainnya. Sesampai di samping gawang, aku melihat badannya sudah mulai dingin, raut muka pucat, dan tangan bergetar halus. Aku sempat meraba denyut nadi di tangan dan leher, menepuk pipi, dan memanggil namanya.
Semua segera sepakat mengangkat Yhewe dan melarikannya ke rumah sakit. Sesampai di luar stadion Elieve dan Andika sudah turun dari tribun, sedangkan mobil satpam UGM yang bisanya terparkir tidak ada di tempat. Karena tidak sabar menunggu, aku segera mengambil motor (berboncengan dengan 1 satpam jaga) utk ke markas satpam UGM.
Baru berjalan 300 meter, kami berbalik setelah berpapasan dengan mobil satpam. Sesampai di stadion, seseorang memberitahu bahwa Yhewe dilarikan oleh panitia dengan mobil Honda Accord putih ke RS Sarjito. Aku segera berbalik arah lagi menyusul ke rumah sakit.
Sesampai di UGD RS Sardjito, Yhewe diturunkan dari mobil dibantu perawat jaga. Setelah Yhewe dibawa masuk UGD, kami ke front office UGD untuk urusan administrasi. Dengan tangan gemetar aku menulis nama serta alamatnya, tahun kelahiran dan agamanya ditulis oleh petugas RS setelah menanyai Elieve.
Setengah berbisik, seorang mahasiswa Kedokteran yg sempat membantu sejak dari stadion menyatakan bahwa denyut nadinya sudah tidak ada sejak di stadion. Saat itu, aku cuma berharap Yhewe pingsan dan nadinya terlalu lemah untuk dideteksi tanpa alat.
Panitia sempat menanyakan nomer telepon keluarga, dan mengajak saya menghubunginya. Dengan telepon genggamku, panitia menghubungi Ibunya. Lewat celah pintu, kami melirik ke dalam UGD dan melihat YW udah tidak ada di ruang UGD. Serentak kami masuk dan bertanya pada perawat yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Mas, temen saya yang tadi mana?"
"Namanya sapa & masuknya kapan?"
"Yang terakhir masuk!"
"Dipindah ke ruang resustasi (kalau aku gak salah baca), ditunggu saja di ruang jenazah"
Seluruh badanku menjadi lemas, Elieve langsung menjatuhkan tas ransel milik Yhewe, dan berlari keluar. Aku dan Andika segera menyusulnya, tanpa bisa berkata apa-apa. Ketika beberapa saat kemudian Ibunya Yhewe menghubungi teleponku, aku hanya bisa memintanya agar segera datang. Untuk beberapa lama, kami tenggelam dalam kesedihan dan tangisan. "Sudah, mari kita berdoa saja" ajak Andika beberapa saat kemudian.
Yhewe, Maafkan aku tidak bisa berbuat lebih untukmu.
Feri "pei" Istanto
[ by : crew ]


