Web Komunitas Suporter Slemania | Kamilah Jiwa - Jiwa yang Tidak Terkalahkan

Supported by: LigaIndonesia.com | Bukan Berita Bola Biasa

VOTING

sembari menunggu siapa pelatih yang akan menukangi PSS musim ini. Mari voting siapa pilihan anda ?








PSS dan APBD

11 November 2005

PSS seperti umumnya tim perserikatan lainnya, mau tak mau menggantungkan diri kepada APBD sebagai nafas hidupnya. Sementara APBD sendiri merupakan proses politik yang rumit karena banyak pihak yang terlibat dan banyaknya kepentingan di dalamnya.

Anda bisa membaca di salahsatu harian di kota Yogya, bahwa Auditor BPK dan salah satu anggota DPRD Sleman menyatakan bahwa anggaran PSS di dalam APBD tidak wajar dan terlalu besar. "Anggaran 4 Milyar untuk PSS adalah jumlah yang terlalu besar....." begitu kira-kira pendapat kedua pihak tersebut.

Saya pikir semua orang setuju bahwa dana 4 Milyar adalah uang yang banyak dan mungkin akan sangat berguna untuk kesejahteraan rakyat. Tetapi dalam sepakbola nasional? Dana sebesar itu adalah jumlah yang sangat kecil dan minim.

Hal ini bisa dibuktikan, Adakah tim Divisi Utama yang lebih kecil anggaran APBDnya dari PSS? Kalo ada mungkin Persik Kediri. Persik minim APBD karena ada Gudang Garam yang memberikan nafas bantuan yang besar. Kenapa PSS tidak bisa seperti Persik? Karena tidak perusahaan sebesar Gudang Garam di Sleman yang mau berkorban sedemikian banyak.

Gudang Garam sendiri menurut saya berani berkorban karena merasa ada tanggung jawab sosial mengingat pabrik utama mereka di Kota Kediri, sehingga ada semacam timbal balik sosial. Hal ini juga terjadi di Arema dengan Bentoelnya, PSM/Persim dengan Bosowa Grup. Beberapa tim yang memiliki sponsor pun biasanya berhubungan dengan proyek atau kepentingan bisnis mereka yang sedang dikerjakan di kota tersebut.

Ada pendapat menyatakan bahwa bukankah di Sleman GE Lighting, dan beberapa perusahaan lain yang tumbuh di Sleman. Mereka harus dipaksai, dan kalau tidak mau jadi sponsor disuruh pergi dari Sleman. Semudah itukah? Pikiran naif dan konyol tersebut harus kita singkirkan. Perusahaan perusahaan tersebut mempunyai jasa yang cukup besar bagi penyerapan tenaga kerja, dan perekonomian masyarakat Sleman. Dalam berbagai skala, mereka juga sudah banyak memberikan sumbangan dana jutaan rupiah ke berbagai kelompok masyarakat. Sumbangan dana tersebut, jika dialihkan untuk PSS jelas terlalu kecil mengingat besarnya dana yang diperlukan.

Kembali ke APBD, tahun 2005 ini APBD mengalami defisit yang besar. Imbasnya PSS pun mengalami defisit. Anggaran PSS yang 8 Milyar baru ditutup anggaran awal sekitar 4,5 Milyar dan ditambah anggaran tambahan sebesar 2,2 Milyar (disetujui separo dari diajukan). Dari tiket? hanya masuk beberapa ratus juta karena Stadion Tridadi yang "mini" tidak mampu memberikan pemasukan yang berarti bagi PSS.

Saya hanya ingin kawan-kawan mau memahami kondisi dasar PSS ini baru memberikan mengomentari. Jalan keluarnya? Sangat sulit mencari solusinya. Mungkin kita bisa menghadap DPRD dan meminta PSS dibubarkan saja bila mereka menganggap anggaran PSS terlalu besar.

Saya tidak menyalahkan anggota Dewan karena mereka bertugas memikirkan semua aspek bukan hanya sepakbola saja, tidak seperti kita, suporter yang hanya berpikir PSS dan sepakbola. Tugas anggota dewan sangatlah berat, demikian juga tugas manajemen PSS juga sangatlah berat dengan kondisi demikian. Mari kita berpikir bersama solusinya.

[ by : Benny Militan ]

<< back to index

Komentar

tambah komentar